-->

Senin, 06 Oktober 2008

BI : Bank Yang Kelebihan Likuiditas Harus Pasok Kepasar

BI : Bank Yang Kelebihan Likuiditas Harus Pasok Kepasar
oleh : zulfikar
Bank Indonesia meminta bank yang kelebihan likuiditas untuk memasoknya ke pasar agar mengurangi keringnya likuiditas saat ini. Jika diperlukan, BI bisa saja mengeluarkan instrumen perpanjangan maturity repo. Menurut Deputi Gubernur Senior BI Miranda Swaray Goeltom, BI memang tidak bisa memaksa bank mengalirkan likuiditasnya ke pasar. Namun, jika diperlukan bisa saja bank sentral menerbitkan instrumen tertentu sebagai insentif. Diharapkan, aliran likuiditas dari bank ini bisa mencegah semakin lebarnya kekeringan likuiditas domestik. "Dalam merespons kondisi saat ini kami berharap semua pihak seperti perbankan sama-sama berperan. Ini dengan tidak mensegregasi antara bank asing atau lokal. Kalau ada bank yang kelebihan likuiditas bisa memberikan dana ke pasar untuk mengurangi kekeringan likuiditas di pasar. Sehingga tidak terjadi spike-spike harga seperti di PUAB (Pasar Uang Antar Bank)," jelas Miranda. Lebih jauh, Miranda menambahkan BI akan memantau kondisi likuiditas perbankan. Bukan hanya di masing-masing bank tapi juga di pasar uang. Dengan keringnya likuiditas di pasar uang, beberapa bank tentunya akan mengalami kesulitan.
Akibatnya, biaya dana semakin besar karena bunga yang didapati juga semakin besar.
Sebagai insentif bagi bank agar mau mengalirkan likuiditas ke pasar, Miranda menyatakan BI bisa menyediakan instrumen tertentu. Salah satu instrumen yang bisa dipakai ialah perpanjangan maturity repo (penghimpunan repo). Selain perpanjangan, BI juga akan mengurangi biaya untuk melakukan repo ke BI. "Misalnya seperti perpanjangan maturity repo. Pada saat kita membuka window yang lebih panjang, bersamaan dengan itu mengurangi biaya untuk merepo ke BI . Ini langkah yang kami lakukan agar masalah kekeringan likuiditas yang terjadi saat ini tidak semakin melebar," tutur Miranda.


Miranda mengingatkan persoalan likuiditas ini bukan hanya masalah perbankan. Pasalnya, dengan keringnya likuiditas sudah pasti kucuran untuk kredit juga akan semakin tipis. Alhasil, pengguna kredit yakni sektor riil juga akan terpengaruh kinerjanya karena kurang didukung kredit. "Ini kan masalah yang sangat temporer dan terjadi di seluruh dunia," tegasnya .Sementara itu, terkait kebijakan suku bunga acuan BI (BI Rate), Miranda menyatakan kebijakan ini lebih merupakan kebijakan moneter. Penetapan BI rate diarahkan sebagai kebijakan moneter yang bertujuan menekan angka inflasi. Hal ini berbeda dengan upaya BI dalam mencairkan situasi likuiditas domestik yang kering akibat krisis finansial global. Rencananya, BI rate akan diumumkan hari ini setelah Rapat Dewan Gubernur BI. "Tetapi yang jelas, kami membedakan antara kebijakan moneter dengan kebijakan kami dalam merespons liquidity shortage. Sehingga harapan kami janganlah terlalu dihubungkan kondisi suku bunga yang sebetulnya digunakan untuk menahan agar inflasi ke depan tidak tinggi, dengan masalah likuiditas jangka pendek," tambahnya. Sebelumnya, Gubernur BI Boediono memperkirakan dampak krisis keuangan di Amerika Serikat (AS) terhadap Indonesia akan terasa dalam enam bulan hingga setahun ke depan. Dampak ini khususnya berupa ketatnya likuiditas dan volatilitas nilai tukar rupiah. Sedangkan, pemulihan ekonomi global membutuhkan waktu sedikitnya dua tahun

0 Comments: