-->

Senin, 08 September 2008

Hedge Fund Sang Pengendali Permainan Bursa

Hedge Fund Sang Pengendali Permainan Bursa
oleh : zulfikar
Para hedge fund sangat senang bermain di pasar yang tidak menentu.Dengan membentuk pasar berjangka (futures market), para hedge fund yang asetnya mencapai US$ 2,9 triliun sangat berperan dalam menentukan nilai aset saat ini (spot) dan harga masa depan (futures). Aksi hedge fund seringkali menimbulkan gejolak harga komoditas yang merembet ke bursa saham maupun pasar valuta asing. Belakangan ini, bursa saham pun mengikuti pergerakan harga komoditas, termasuk minyak mentah di New York Mercantile Exchange (Nymex).Oleh karena itu, sejumlah analis menyarankan investor di bursa saham untuk wait and see sembari mencermati pergerakan harga-harga komoditas di pasar berjangka. Saat ini, pemodal asing di bursa saham pun lebih selektif dalam berinvestasi supaya tidak terseret kejatuhan indeks. Mereka mengimbangi portofolionya dengan investasi di bursa komoditas, deposito, emas, dan properti.

Demikian rangkuman pendapat Direktur PT Reliance Securities Tbk Steve P Susanto, ekonom Standard Chartered Bank Fauzi Ichsan, Dirut Option Institute Indonesia Abraham Lembang, penasihat investasi dari HB Capital Roland Haas, dan Gideon Lapian dari Komite Investasi Treasure Fund. Mereka dihubungi Investor Daily secara terpisah di Jakarta, pekan lalu, terkait gejolak harga komoditas yang luar biasa belakangan ini. Pada perdagangan Jumat (5/9), harga minyak menyentuh angka US$ 106,2 per barel karena khawatir penurunan permintaan global. Di London, harga minyak mentah jenis Brent untuk pengiriman Oktober turun US$ 2,21 menjadi US$ 104,1 per barel. Namun, sinyal kenaikan harga mulai terlihat seiring adanya badai di kawasan Atlantik dan rencana OPEC memangkas produksi.Steve Susanto menyatakan, gelembung investasi di aset finansial sudah pecah. Hedge fund saat ini lebih banyak memegang dana tunai. Mereka kemudian mengalihkan portofolionya ke bursa komoditas. Meningkatnya investasi pada bursa komoditas global mendorong lonjakan harga, di antaranya minyak mentah, batubara, dan minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO). Aksi para spekulan saat ini juga menyebabkan gejolak harga komoditas semakin tidak terkendali. Harga minyak pun sudah melambung di atas harga wajarnya (US$ 90 per barel). Fauzi Ichsan menambahkan, gejolak harga komoditas di dunia menyebabkan eksportir di Indonesia juga kesulitan menerapkan manajemen risiko. “Hedging atau lindung nilai seharusnya menjadi salah satu langkah mengantisipasi kerugian. Sedangkan importir bisa menahan dulu atau memanfaatkan call option,” ujar Fauzi.


Namun, kata Fauzi, meningkatnya perdagangan di bursa komoditas global tidak diimbangi di Bursa Berjangka Jakarta (BBJ). Transaksi di BBJ relatif sepi karena jarang ada permintaan dan penawaran terhadap sejumlah komoditas primer. Menurut Bank for International Settlement (BIS), pada akhir 2007 nilai kontrak berjangka komoditas mencapai US$ 9 triliun, dengan volume 393,1 miliar kontrak. Dari jumlah itu, US$ 595 miliar adalah kontrak emas, US$ 103 miliar kontrak logam non-emas, dan sisanya mayoritas adalah kontrak komoditas. Posisi itu naik dari 2006 sebesar US$ 7,56 triliun. Sedangkan untuk kontrak saham senilai US$ 8,509 triliun, menurun dari tahun sebelumnya sebesar US$ 8,590 triliun.Abraham Lembang menjelaskan, nilai sebuah aset keuangan bisa ditentukan oleh kondisi saat ini, masa lampau, dan masa depan. Itu sebabnya, seorang manajer investasi saat melakukan valuasi aset harus memperhatikan ketiga faktor tersebut. Di tingkat global, meski harga komoditas banyak dipengaruhi harga futures, harga fisik masih sangat menentukan. Para investor tetap mendasarkan pada permintaan dan suplai komoditas fisiknya.Dalam pandangan Gideon Lapian, valuasi aset menggunakan futures price adalah sebuah lompatan. Sebab, penentuan sebuah aset finansial tak lagi berlaku secara linier atau satu arah. Faktor sebab-akibat merupakan sebuah kemutlakan. “Artinya, nilai aset masa kini adalah sebuah akibat, sedangkan masa lampau adalah sebab,” jelas dia.Seiring dengan gencarnya perubahan perilaku, valuasi aset tak lagi hanya ditentukan oleh nilai masa lalu. Kini, futures price banyak ditentukan oleh pemain-pemain pasar bermodal besar (hedge fund). “Kelompok hedge fund, secara tidak langsung adalah pembentuk nilai aset di pasar spot dengan membentuk harga di futures market,” jelas Gideon.

Gideon mencontohkan, Nymexmerupakan bursa berjangka yang memfasilitasi pembentukan harga di masa mendatang. Valuasi aset dilakukan dengan pendekatan multidisiplin dan multidimensi.Roland Haas menambahkan, parameter penentuan nilai aset wajib menggunakan faktor historis dan masa depan. Namun, valuasi terhadap aset tidak boleh terdapat disparitas harga yang begitu lebar. Roland sepakat bahwa hedge fund adalah pihak yang berperan dalam menentukan nilai aset saat ini dengan membentuknya di futures market. "Karena hedge fund punya dana besar, mereka bisa membuat nilai satu saham di pasar spot tidak berarti apa-apa, dengan cara membentuknya di pasar derivatif," kata Roland.

Derivatif Beracun

Analis pasar AS Paul B Farrel seperti dikutip MarketWatch, , menyebutkan adanya US$ 516 triliun dana-dana investasi, yang dijuluki derivatif beracun. Dana yang jumlahnya 10 kali lipat PDB dunia (US$ 50 triliun) itu siap menghancurkan pasar finansial global dalam sekejap. Mereka memainkan dana-dana itu di pasar indeks future, saham, obligasi, valuta asing, dan bursa komoditas. Per kuartal II-2008, menurut Hedge Fund Net, total aset 8.400 hedge fund global dan commodity trading advisor (CTA) mencapai US$ 2,973 triliun, naik 4,41% dibanding kuartal I-2008. Selama kuartal II-2008, investor yang menempatkan dananya di hedge fund mereguk keuntungan US$ 91,2 miliar.Pertumbuhan dana-dana hedge fund tertinggi terjadi di Eropa. Selama Kuartal II-2008, sedikitnya US$ 21,5 miliar dana ditempatkan di benua itu. Saat ini, total aset hedge fund Eropa mencapai US$ 858 miliar. Dana hedge fund yang ditempatkan di Asia berkurang US$ 3,1 miliar akibat kerugian maupun karena sebagian keluar.Dalam tiga kuartal belakangan ini, investor mengurangi portofolio saham dan meningkatkan alokasinya pada fixed income. Kuartal II-2008, aset dalam portofolio saham melorot US$ 6,2 miliar, meski gain mereka bertambah 2,16% dari saham. Sebaliknya, portofolio fixed income tumbuh 3,04%, sehingga total asetnya mencapai US$ 613 miliar. Kenaikan paling mencolok terjadi pada surat-surat berharga berpendapatan tetap korporasi, terutama sekuritas berbasis mortgage yang tumbuh 19% menjadi US$ 35 miliar.Alokasi dana hedge fund ke emerging market cenderung melambat dalam tiga kuartal terakhir. Alokasi portofolio mereka pada kuartal II hanya tumbuh 0,64%, anjlok dari periode setahun lalu sebesar 10,64%

0 Comments: