Pertumbuhan Ekonomi Q-II Diperikrakan Mencapai 6.4 %
oleh : zulfikar
Bank Indonesia optimistis pertumbuhan ekonomi Indonesia di smester dua masih akan tinggi. Hal diperlihatkan dengan agregat permintaan yang mendorong pertumbuhan ekonomi pada kuartal II 2008 mencapai 6,4%.
"Pertumbuhan ekonomi kita bagus pada dua kuartal ini, jadi tidak akan ada resesi. Kalaupun ada perlambatan, kemungkinan besar bukan karena agregat demand yang tidak kuat tapi karena kendala suplay, seperti produksi atau infrastruktur yang memperlambat pertumbuhan ekonomi," ungkap Gubernur BI Boediono dalam penuturannya di sela kegiatan buka puasa bersama wartawan di Jakarta, Senin (8/9).
Menurut Boediono, kondisi ini membuat Indonesia jauh dari resesi ekonomi. Padahal, pada saat bersamaan banyak negara-negara maju di dunia mengalami perlambatan ekonomi atau bahkan diambang resesi. Namun, dia mengingatkan kendala utama yang dihadapi oleh Indonesia saat ini adalah masalah inflasi. Berbeda jauh dengan kondisi yang dihadapi Amerika Serikat yakni kerusakan sektor keuangan dan perlambatan pertumbuhan ekonomi.
Meski begitu, Boediono menambahkan resesi ataupun gangguan perekonomian di Negeri Paman Sam tetap harus diwaspadai. Hal itu mengingat volume ekonomi AS yang masih menjadi kekuatan besar ekonomi dunia. Kerusakan sektor keuangan yang terjadi di Amerika Serikat itu akan cukup panjang ekornya dan tidak diketahui sampai kapan ini akan terjadi. Asumsi ini diperkuat fenomena penutupan beberapa lembaga keuangan AS karena krisis tersebut. "Tapi Indonesia sekarang cukup baik di sektor ini," katanya.
oleh : zulfikar
Bank Indonesia optimistis pertumbuhan ekonomi Indonesia di smester dua masih akan tinggi. Hal diperlihatkan dengan agregat permintaan yang mendorong pertumbuhan ekonomi pada kuartal II 2008 mencapai 6,4%.
"Pertumbuhan ekonomi kita bagus pada dua kuartal ini, jadi tidak akan ada resesi. Kalaupun ada perlambatan, kemungkinan besar bukan karena agregat demand yang tidak kuat tapi karena kendala suplay, seperti produksi atau infrastruktur yang memperlambat pertumbuhan ekonomi," ungkap Gubernur BI Boediono dalam penuturannya di sela kegiatan buka puasa bersama wartawan di Jakarta, Senin (8/9).
Menurut Boediono, kondisi ini membuat Indonesia jauh dari resesi ekonomi. Padahal, pada saat bersamaan banyak negara-negara maju di dunia mengalami perlambatan ekonomi atau bahkan diambang resesi. Namun, dia mengingatkan kendala utama yang dihadapi oleh Indonesia saat ini adalah masalah inflasi. Berbeda jauh dengan kondisi yang dihadapi Amerika Serikat yakni kerusakan sektor keuangan dan perlambatan pertumbuhan ekonomi.
Meski begitu, Boediono menambahkan resesi ataupun gangguan perekonomian di Negeri Paman Sam tetap harus diwaspadai. Hal itu mengingat volume ekonomi AS yang masih menjadi kekuatan besar ekonomi dunia. Kerusakan sektor keuangan yang terjadi di Amerika Serikat itu akan cukup panjang ekornya dan tidak diketahui sampai kapan ini akan terjadi. Asumsi ini diperkuat fenomena penutupan beberapa lembaga keuangan AS karena krisis tersebut. "Tapi Indonesia sekarang cukup baik di sektor ini," katanya.
Lebih jauh, Boediono menyatakan bahwa Indonesia saat ini masih cukup beruntung di tengah situasi ekonomi global yang sedang menghadapi guncangan. Dari tiga masalah ekonomi yang dihadapi pada perekonomian dunia saat ini, Indonesia hanya mengalami satu masalah yaitu inflasi. Indonesia belum terpengaruh banyak oleh dampak kenaikkan komoditas pangan dan energi, perlambatan ekonomi atau resesi. Pasalnya, sekarang ini sudah ada beberapa negara yang pertumbuhan ekonominya minus, serta kerusakan sektor keuangan. Selain AS, Boediono menambahkan negara-negara Eropa juga menghadapi masalah inflasi dan perlambatan ekonomi. Sebaliknya, Indonesia dan sebagian besar negara Asia hanya mengalami persoalan inflasi. Kendati begitu, dia kembali menyatakan optimismenya bahwa permasalahan inflasi di Tanah Air akan berakhir tahun depan. "Kita masih yakin tahun depan inflasi akan berada di kisaran 6,5% hingga 7,5%," imbuhnya. Sedangkan, pertumbuhan ekonomi nasional seperti dalam RAPBN 2009 diprediksi akan berada di level 6,2%. Menurut Boediono angka ini memang angka paling realistis dan konservatif. Namun, dia mengingatkan bahwa asumsi dalam RAPBN memang dituntut demikian. "Asumsi RAPBN harus realistis guna menjaga persepsi pasar," tambahnya

0 Comments:
Post a Comment