Tight Money Policy Akan Diterapkan di Q-III
oleh : zulfikar
Bank Indonesia akan menerapkan Tight Money Policy atau kebijakan uang ketat menyusul dengan adanya inflasi, Hal ini dikatakan oleh Deputi Gubernur BI Budi Mulya dalam rapat Laporan Semester I dan Prognosa Semester II APBN-P 2008 bersama Panitia Anggaran DPR, di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Selasa malam (15/7/2008)."Kebijakan moneter yang ketat ini untuk meng-anchor inflasi agar bisa dikendalikan lebih baik hingga akhir tahun ini. Instrumen yang digunakan bukan hanya suku bunga saja tapi juga nilai tukar dan kelancaran likuiditas, jadi kita perketat kebijakan moneter," ujarnya.Mengenai realisasi asumsi semester I dan prognosa semester II-2008, Budi Mulya mengatakan lonjakan inflasi bukan hanya terjadi di Indonesia saja, tapi juga di negara lain. "Bahkan di negara lain bukan hanya inflasi yang melonjak tapi juga perlambatan pertumbuhan ekonomi. Jadi ekonomi kita pertumbuhan ekonominya tetap lebih sehat dengan pertumbuhan ekonomi sekitar 6%," tuturnya.Dikatakannya pada kondisi ekonomi global yang guncang saat ini,inflasi merupakan variabel yang memang sangat sulit diperkirakan. "Juni saja inflasi sudah mencapai 11,03 (yoy) dan ini tidak kita perkirakan, sebab asumsi APBN-P masih 6,5%," jelasnya.Namun dengan berbagai upaya yang dilakukan pemerintah dan BI, inflasi tahunan di 2008 bisa ditahan di level 11,4% (asumsi pemerintah). "Ini ada dalam range BI yang sebesar 11,5%," katanya.
oleh : zulfikar
Bank Indonesia akan menerapkan Tight Money Policy atau kebijakan uang ketat menyusul dengan adanya inflasi, Hal ini dikatakan oleh Deputi Gubernur BI Budi Mulya dalam rapat Laporan Semester I dan Prognosa Semester II APBN-P 2008 bersama Panitia Anggaran DPR, di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Selasa malam (15/7/2008)."Kebijakan moneter yang ketat ini untuk meng-anchor inflasi agar bisa dikendalikan lebih baik hingga akhir tahun ini. Instrumen yang digunakan bukan hanya suku bunga saja tapi juga nilai tukar dan kelancaran likuiditas, jadi kita perketat kebijakan moneter," ujarnya.Mengenai realisasi asumsi semester I dan prognosa semester II-2008, Budi Mulya mengatakan lonjakan inflasi bukan hanya terjadi di Indonesia saja, tapi juga di negara lain. "Bahkan di negara lain bukan hanya inflasi yang melonjak tapi juga perlambatan pertumbuhan ekonomi. Jadi ekonomi kita pertumbuhan ekonominya tetap lebih sehat dengan pertumbuhan ekonomi sekitar 6%," tuturnya.Dikatakannya pada kondisi ekonomi global yang guncang saat ini,inflasi merupakan variabel yang memang sangat sulit diperkirakan. "Juni saja inflasi sudah mencapai 11,03 (yoy) dan ini tidak kita perkirakan, sebab asumsi APBN-P masih 6,5%," jelasnya.Namun dengan berbagai upaya yang dilakukan pemerintah dan BI, inflasi tahunan di 2008 bisa ditahan di level 11,4% (asumsi pemerintah). "Ini ada dalam range BI yang sebesar 11,5%," katanya.
Untuk nilai tukar yang awalnya pada asumsi APBN-P adalah Rp 9.100/US$ saat ini diperkirakan melemah menjadi Rp 9.250/US$ dengan nilai tukar sampai di semester I-2008 sebesar Rp 9.261/US$."Di pasar valuta asing saat ini, ada ekspektasi rupiah melemah karena ekspektasi inflasi yang meningkat, jadi kedua hal ini tidak bisa dipastikan," imbuhnya.Untuk rupiah ini, Budi Mulya menuturkan BI akan terus menjaga rupiah stabil dan terkendali. "Dibandingkan negara emerging lain, yang dilakukan pemerintah dan BI bisa kita yakini," ujarnya.Penguatan rupiah belakangan ini dijelaskan Budi Mulya adalah karena pilihan investor terhadap aset rupiah meningkat. "Aset rupiah di SUN telah rebound dan meningkat, yield semakin menurun sehingga harga naik. Kami mengharapkan kondisi ini akan terus terjadi," tandasnya.Sementara untuk suku bunga SBI 3 bulan, Budi Mulya mengatakan berdasarkan hasil lelang SBI yang dilakukan tiap minggu, untuk SBI 1 bulan tingkat suku bunganya saat ini adalah 9,2% yang menunjukkan persepsi pasar. "Jadi perkiraan akhir tahun 9,1% saya harapkan bisa di level itu," katanya.Selain menjaga inflasi tetap terkendali, Budi Mulya mengatakan BI akan turut menjaga pertumbuhan ekonomi melalui usahanya mendorong momentum dunia usaha melalui pembiayaan perbankan."Pertumbuhan kredit sampai semester I-2008 di atas 30% dan kualitasnya sangat produktif, dan kita akan terus arahkan pertumbuhan ekonomi melalui kredit ini agar tetap berlangsung," jelasnya.Kebijakan untuk menjaga pertumbuhan dunia usaha selain melalui pembiayaan perbankan juga adalah lewat kebijakan suku bunga. "Suku bunga bukan hanya untuk menjaga inflasi tapi juga penting bagi dunia usaha, karena itu kita juga mempertimbangkan dunia usaha dalam melakukan adjustment suku bunga," ucapnya

0 Comments:
Post a Comment