Perbankan Mulai Kepanasan Dengan NPL
oleh : zulfikar
Bank Indonesia (BI) mencatat rasio kredit bermasalah (NPL) gross perbankan naik dari 4,33% pada Maret menjadi 4,39% per April 2008. Sementara NPL nett pada periode yang sama naik dari 1,78% menjadi 1,8%. Komposisi NPL tersebut adalah 3,7% pada kredit modal kerja, kredit investasi 5,3%, dan kredit konsumsi 3,1%. ”Namun, perbankan secara umum masih tahan dan baik. Intermediasi naik yang ditunjukkan kredit yang naik Rp22,9 triliun atau 2,1% dari Rp1.080,1 triliun menjadi Rp1.103,1 triliun.Secara year on year, kredit bahkan naik 29% atau Rp247,7 triliun,” kata Deputi Gubernur BI Muliaman D Hadad saat pemaparan hasil Rapat Dewan Gubernur BI (DGBI) di Jakarta kemarin. Peningkatan penyaluran kredit tersebut menyebabkan rasio antara pinjaman dan simpanan (loan to deposit ratio/LDR) perbankan mencapai level tertinggi dalam sejarah, yaitu mencapai 74,4%. Muliaman menuturkan, sebagian besar kredit atau sebesar 71% dialokasikan kepada kredit modal kerja dan investasi. Terkait perkembangan NPL, Muliaman menegaskan bahwa kenaikan tipis itu masih normal.Namun, hal itu tetap menjadi perhatian BI. Menurut Muliaman, BI akan terus melakukan pemantauan terhadap perkembangan NPL dan mengingatkan perbankan untuk menyalurkan kredit dengan tetap memperhatikan manajemen risiko. Pertumbuhan kredit didorong sektor nonusaha mikro kecil menengah (UMKM),seperti perkebunan dan infrastruktur. Sementara kredit UMKM, kata dia, meski lebih kecil,namun tetap tumbuh.
oleh : zulfikar
Bank Indonesia (BI) mencatat rasio kredit bermasalah (NPL) gross perbankan naik dari 4,33% pada Maret menjadi 4,39% per April 2008. Sementara NPL nett pada periode yang sama naik dari 1,78% menjadi 1,8%. Komposisi NPL tersebut adalah 3,7% pada kredit modal kerja, kredit investasi 5,3%, dan kredit konsumsi 3,1%. ”Namun, perbankan secara umum masih tahan dan baik. Intermediasi naik yang ditunjukkan kredit yang naik Rp22,9 triliun atau 2,1% dari Rp1.080,1 triliun menjadi Rp1.103,1 triliun.Secara year on year, kredit bahkan naik 29% atau Rp247,7 triliun,” kata Deputi Gubernur BI Muliaman D Hadad saat pemaparan hasil Rapat Dewan Gubernur BI (DGBI) di Jakarta kemarin. Peningkatan penyaluran kredit tersebut menyebabkan rasio antara pinjaman dan simpanan (loan to deposit ratio/LDR) perbankan mencapai level tertinggi dalam sejarah, yaitu mencapai 74,4%. Muliaman menuturkan, sebagian besar kredit atau sebesar 71% dialokasikan kepada kredit modal kerja dan investasi. Terkait perkembangan NPL, Muliaman menegaskan bahwa kenaikan tipis itu masih normal.Namun, hal itu tetap menjadi perhatian BI. Menurut Muliaman, BI akan terus melakukan pemantauan terhadap perkembangan NPL dan mengingatkan perbankan untuk menyalurkan kredit dengan tetap memperhatikan manajemen risiko. Pertumbuhan kredit didorong sektor nonusaha mikro kecil menengah (UMKM),seperti perkebunan dan infrastruktur. Sementara kredit UMKM, kata dia, meski lebih kecil,namun tetap tumbuh.
Sedangkan untuk margin bunga bersih (net interest margin/NIM) tetap lebar dan tidak terpengaruh kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM). Mudah-mudahan tidak mengganggu kinerja bank,”tuturnya. Sementara itu,praktisi dan pengamat perbankan Paul Sutaryono menilai peningkatan NPL dipicu kredit konsumsi yang memang rentan terhadap perubahan komposisi kebutuhan hidup sehari-hari.
Sebab, kredit jenis ini ditujukan kepada nasabah individu sehingga kenaikan harga barang-barang menjelang kenaikan harga BBM langsung memukul kemampuan membayar kreditor. ”Akibatnya, angsuran KPR,kredit motor, dan kartu kredit menjadi prioritas ke sekian setelah kebutuhan pangan terpenuhi. Bank harus memperhatikan kondisi tersebut,” ujarnya.
Untuk mengantisipasi semakin naiknya NPL, Paul mengimbau perbankan agar tidak terburu-buru dalam menaikkan bunga. Kelonggaran itu akan memberikan kesempatan kepada nasabah untuk mengangsur sehingga NPL tetap terjaga. Hal terpenting,menurut dia, adalah menerapkan manajemen risiko melalui pemberian kredit secara hati-hati dan tidak hanya mengejar keuntungan. Pendapat senada diungkapkan Direktur Biro Riset Infobank Eko B Supriyanto.
Kenaikan NPL disebabkan oleh pelemahan daya beli masyarakat. Hal ini diprediksi akan terus berlanjut sejalan dengan meningkatnya inflasi. ”Karena itu, bank harus berhati-hati dan mewaspadai kenaikan inflasi yang bisa meledakkan bank karena pembengkakan NPL. Bank harus sudah bersiap-siap mengantisipasi lonjakan NPL dengan memperhatikan kualitas pemberian kredit,”tandasnya

0 Comments:
Post a Comment