-->

Selasa, 01 April 2008

Bank Dunia Memproyeksikan Pertumbuhan Asia Timur Mengalami Perlambatan

Bank Dunia Memproyeksikan Pertumbuhan Asia Timur Mengalami Perlambatan
oleh : zulfikar
Bank Dunia hari Selasa menurunkan porkas pertumbuhan 2008 Asia Timur yang dikatakannya sedang menghadapi “masa yang penuh cobaan” dengan adanya pelambanan pertumbuhan global akibat semakin mendalamnya krisis keuangan AS, dengan pertumbuhan Indonesia diperkirakan melamban menjadi 6,0% dibandingkan 6,3% tahun 2007.Dalam laporan tengah tahunannya, Bank Dunia mengatakan, Asia Timur bisa mengharapkan pertumbuhan 7,3% tahun ini, turun dari perkiraan sebelumnya 8,7%.Porkas yang sudah direvisi itu menunjukkan perlambanan cukup tajam dibandingkan pertumbuhan 8,7% tahun lalu di dalam pengelompokan Asia Timur oleh bank tersebut, yang termasuk Asia Tenggara, China dan sebagian besar negara regional lainnya kecuali Jepang.


Ini akan menjadi masa yang penuh cobaan bagi Asia Timur dan sudah barang tentu realitasnya adalah berupa ketidak-pastian yang sangat besar, terutama berkaitan dengan kenyataan bahwa segala seauatunya berobah begitu cepat,” kata pejabat kepala ekonom Bank tersebut, Vikram Nehru.

Dalam laporannya, Bank Dunia mengatakan, “dengan adanya krisis di AS yang semakin mendalam, maka kejutan-kejutan yang akan muncul tidak bisa diabaikan begitu saja.” Pasar saham Asia Timur bahkan sudah sempat merasakan akibat gejolak kisis ekonomi di AS.

Pertumbuhan di “Asia Timur yang Sedang Berkembang”, istilah yang digunakan Bank Dunia -- untuk seluruh negara yang berpendapatan rendah dan sedang, termasuk China dan Indonesia -- diperkirakan akan melamban menjadi 8,6% dari 10,2% tahun 2007.

Ini akan menjadi pertumbuhan paling lemah di kawasan tersebut sejak 2002 dan karena tidak terlepas dari pengaruh perlambanan pertumbuhan AS.

Ekspor Asia Timur kemungkinan akan “lebih jelas menurun dalam beberapa bulan mendatang, karena impor AS yang mulai anjlok, dan karena gejolak pasar keuangan serta perlambanan pertumbuhan AS mulai semakin mempengaruhi berbagai negara lain yang menjadi pasar Asia Timur.”

Banyak analis mengatakan, Amerika Serikat, sebagai lokomotif perekonomian dunia, kemungkinan akan mengalami pertumbuhan yang nyaris nol alias negatif selama semester pertama 2008 sebelum mengalami pemulihan secara moderat dalam semester kedua.

Pinjaman subprime (kredit pemilikan rumah/KPR) yang ditawarkan kepada masyarakat dengan kredit yang bermasalah, dikemas dalam bentuk saham yang dijual kepada para investor di seluruh dunia.

Write-down nilai aset

Ketika terjadi kelalaian dari para pemegang KPR, bank-bank mulai mengalami kerugian miliaran dolar pada neraca pembukuan mereka. Bank-bank kemudian terpaksa memperketat penyaluran kredit yang sangat mengganggu terhadap belanja konsumen dan dunia bisnis, hingga mengancam perekonomian secara keseluruhan.

China termasuk korban dari perlambanan pertumbuhan dunia yang dipimpin AS, dengan pertumbuhannya tahun 2008 diperkirakan melemah menjadi 9,4% dari 11,4% tahun lalu, yang mengakhiri era pertumbuhan dua digitnya selama lima tahun berturut-turut, kata laporan bank itu.

Pertumbuhan tahun ini di Indonesia, negara ekonomi terbesar di Asia Tenggara, diperkirakan melamban menjadi 6,0% dari 6,3% tahun 2007. “Gejolak keuangan global mulai berpengaruh, namun Indonesia diperkirakan akan cukup mampu mengatasi dampak dari pelambanan pertumbuhan global,” katanya.

Disisi lain, Bank Dunai mengatakan, subsidi bahan bakar Indonesia yang tahun ini mencapai tiga kali lipat menjadi Rp 126,8 triliun telah memaksa pemerintahnya menekan anggaran yang akan lebih banyak digunakan untuk prasarana dan proyek-proyek sosial yang jauh lebih dibutuhkan.

Pertumbuhan di Vietnam diperkirakan 8,0% tahun ini dibandingkan 8,5% tahun 2007, sementara pertumbuhan Malaysia 2008 diperkirakan 5,5% turun dari 6,3% tahun 2007.

Kecuali Thailand dengan perkiraan pertumbuhannya 5,0% tahun ini yang naik dari 4,8% tahun 2007, sementara pertumbuhan di “Negara-negara Industri Baru” Singapura, Taiwan, Hong Kong dan Korea Selatan, diperkirakan turun menjadi hanya 4,6% tahun 2008 dari 5,6% tahun lalu, kata Bank Dunia. (AFP)


0 Comments: