Bank Asing Yang Beroperasi di Indonesia Diperkirakan Terkena Resiko Derivatif & Reputasi
Oleh : zulfikar
Bank-bank Asing yang beroperasi di Indonesia yang berfokus kepada produk On-shore dan Off Shore harus mengalami tekanan penurunan terhadap asset mereka, hal ini terjadi dikarenakan bursa saham baik dalam dan luar negeri mengalami penurunan yang mengakibatkan menurunnya nilai NAV yang berimbas kepada asset mereka. Berbagai cara Bank asing lakukan untuk menaikkan asset mereka mulai dari dengan adanya produk promo berhadiah serta dengan mempromosikan lewat surat kabar nasional tentang produk investasi, tak lebih juga adanya kegiatan promosi lewat edukasi pasar modal dan media lainnya
Oleh : zulfikar
Bank-bank Asing yang beroperasi di Indonesia yang berfokus kepada produk On-shore dan Off Shore harus mengalami tekanan penurunan terhadap asset mereka, hal ini terjadi dikarenakan bursa saham baik dalam dan luar negeri mengalami penurunan yang mengakibatkan menurunnya nilai NAV yang berimbas kepada asset mereka. Berbagai cara Bank asing lakukan untuk menaikkan asset mereka mulai dari dengan adanya produk promo berhadiah serta dengan mempromosikan lewat surat kabar nasional tentang produk investasi, tak lebih juga adanya kegiatan promosi lewat edukasi pasar modal dan media lainnya
Kondisi Pasar Modal Indonesia & global

IHSG kemarin bergerak variatif, indeks sempat menyentuh level 2,582 yang dekat dengan support pertamanya pada 2,580 dan level 2,637 yang dekat dengan resisten pertamanya di 2,639. Pergerakan ini didominasi oleh sentimen yang memperkirakan Fed rateyang kemungkinan hanya turun 25bps akibat data durable goods yang positif. Akan tetapi, The Fed akhirnya menurunkan 50bps dan mendorong penguatan Wall Street. Namun karena diturunkannya rating AAA perusahaan penjamin obligasi, Wall Street ditutup melemah. Sentimen ini berpengaruh negatif pada saham-saham finansial di berbagai bursa dan dapat juga mempengaruhi saham finansial di BEI hari ini. Bursa regional pagiini dibuka melemah, tingginya ketidakpastian sepertinya akan membuat indeks masih volatile. Berdasarkan kondisi tersebut, indeks hari ini diperkirakan bergerak mixed dengan kecenderungan melemah dengan support resisten pertama pada 2,569—2,651 dan kedua pada 2,486—2,733 yang mengakibatkan Indeks harga saham gabungan (IHSG) minggu lalu ditutup melemah di level 2,277 atau turun 8.1% dibanding minggu sebelumnya.
Pergerakan IHSG tidak sejalan dengan tren regional yang rata-rata tumbuh2%-3% yang diakibatkan oleh naiknya ekspektasi inflasi yang ditakutkan akan memaksa Bank Indonesia untuk menaikan suku bunganya. Koreksi yang tajam,juga terjadi pada pasar obligasi pemerintah yang turun sebesar 4.5% di minggu lalu (turun 10.8% dari akhir tahun lalu), meski hari Jumat kemarin pemerintah, melakukan pembelian kembali untuk obligasi dengan tingkat jatuh tempo di bawah 2 tahun. Kecilnya bid yang diambil sebesar Rp2tn dari Rp16tn bid yang masuk membuat pasar obligasi melanjutkan koreksinya diakhir minggu lalu. Pada hari jumat (4/4), imbal hasil obligasi 10thn mencapai 12.5% dari 11.6% sebelumnya yang menunjukan meningkatnya ekspektasi inflasi di dalamperhitungan harga obligasi. Sementara itu rupiah diperdagangkan relatif stabildi level Rp9,197/US$ (sesuai dengan prediksi kami minggu lalu) atau secara rata-rata sedikit melemah dari minggu sebelumnya, meskipun terjadi penjualan bersih asing di pasar saham yang mencapai level Rp0.6tn. Posisi asing (Mar08) di SUN relatif stabil dikisaran Rp80tn dan menurun di SBI di level Rp30tn-an (turun 35%) dari posisi tertingginya di awal bulan Maret. Relatif stabilnya nilai tukar rupiah sebagian didukung oleh meningkatnya cadangan devisa yang mencapai US$59bn di bulan Maret atau meningkat lebih dari US$2bn (3.7% mom)
Kondisi Market Regional

Gejolak perekonomi global yang dipicu oleh pelemahan ekonomi AS belum menunjukan akan segera berakhir. Data tenaga kerja AS yang dirilis minggu lalu menunjukan kontraksi yang cukup besar di bulan Maret, dimana tenaga kerja di luar sektor pertanian dan manufaktur turun sebesar 80ribu dan 48ribu lebih besar dari konsensus pasar sebesar 50rb dan 35rb. Hal ini menyebabkan tingkat pengangguran naik menjadi 5.1% di periode yang sama dari sebelumnya 4.8%. Sementara itu, ketatnya tingkat produksi pangan dunia dibandingkan dengan permintaannya yang dipicu oleh pembatasan-pembatasan ekspor yang dilakukan negara-negara pengekspor beras, seperti India, Thailand, dan Vietnam dan pelemahan mata uang dolar AS terhadap mata uang utama lainnya (mendorong investasi alternatif pada pasar komoditas) menyebabkan harga-harga makanan dunia, khususnya beras meningkat cukup tajam.
Berdasarkan perdagangan berjangka beras di Chicago Board of Trade (CBOT), harga beras meningkat 4% di minggu lalu atau sudah lebih dari 40% menjadi hampir US$440/ton apabila dibandingkan dengan akhir tahun 2007. Hal ini dapat berdampak negatif pada tingkat inflasi domestik apabila harga beras global mempengaruhi nilai jual beras domestik, mengingat beras merupakan makanan pokok dan mempunyai berat penimbang yang paling besar dalam perhitungan inflasi domestik (kurang lebih 6%).
Starategi Yang Harus Dilakukan

Bank-bank asing harus fokus ke bisnis yang sebenarnya sebagai bank yakni sebagai fungsi intermediasi dikarenakan ada bank Asing yang LDR-nya masih dibawah 50 %, hal inilah yang membuktikan bank tersebut hanya fokus di produk onshore dan offshore yang sangat beresiko terhadap bank yakni resiko reputasi, walaupun bank tersebut tidak membawa dampak dikarenakan nasabah yang rugi sementara pihak bank hanya mengalami penurunan asset, namun secara khusus bank tersebut akan mengalami resiko reputasi dan manajemen karena ketidak mampuan mengelola dana mereka.
Kondisi Pasar keuangan

Meskipun pasar keuangan akan menanjak, namun menanjak tidak membawa kenaikan yang cukup signifikan dibandingkan dengan dana investor yang sudah banyak mengalami kerugian yang mengakibatkan adanya strategi cut loss dan bermain di jangka pendek dan option.Rupiah diperkirakan akan bergerak Flat,kisaran target di level 2,231-2500.
Sedangkan rupiah diprediksikan secara rata-rata stabil di level Rp9,177/US$-Rp9,200/US$. Sentimen negatif dari meningkatnya inflasi kami perkirakanmasih akan mempengaruhi perdagangan saham dan obligasi di minggu ini. Dari sisi global, pasar akan mencermati beberapa rilis data seperti pending home sales dan tingkat keyakinan konsumen yang diprediksi masih akan melemah

0 Comments:
Post a Comment