-->

Jumat, 04 Januari 2008

Negara ASIA bersiap-siap tambah subsidi energi

Negara ASIA bersiap-siap tambah subsidi energi
oleh : zulfikar
Harga minyak mentah kini telah tembus $ 100/barrel dan dikahawatirkan akan menembus level psikologis sebesar $ 150/barrel, negara-negara di Asia kini mulai bersiap-siap untuk merevisi prediksi biaya-biaya mereka


Sejumlah pakar mengatakan, harga minyak yang tinggi, yang naik 44% sejak Agustus lalu dan 57% sejak akhir 2006, bisa menghalangi pertumbuhan kawasan Asia jika berlangsung terus hingga beberapa waktu mendatang dan mengurangi permintaan.

“Jika harga minyak tetap tinggi hingga masa tertentu, maka akan muncul sejumlah perkembangan negatif terhadap perekonomian Asia,” kata Adrian Loh, analis energi Merrill Lynch di Singapura.

“Risiko besarnya ialah kalau permintaan cukup terpengaruh dengan kuat ketimbang kondisi perlambanan pertumbuhan global,” katanya.

Menurut Loh, harga minyak perlu bertahan di atas $100 selama lebih enam bulan sebelum berpengaruh kepada pola kebiasaan konsumen.

Harga Tinggi Takkan Lama

Stephen Knell, analis energi Global Insight yang berbasis di London mengatakan, harga energi di banyak negara Asia tidak selalu mencerminkan nilai pasar internasional, dan diperkirakan levelnya yang tinggi itu tidak akan berlangsung lama.

Dia mengatakan bahwa rezim subsidi pemerintah negara setempat cukup berperan dalam meningkatkan momentum yang memicu tingginya harga.

Pemerintah negara setempat sebenarnya berperan dalam mendorong lebih banyak konsumsi dan di dalam kenaikan harga yang menciptakan lebih banyak kerugian. Jelas ada unsur tidak rasional dalam kebijakan seperti itu, katanya.

Pemerintah China menaikkan harga solar dan bensin sekitar 10% Nopember lalu untuk mengekang permintaan, dengan para produsen mengeluh mengalami kerugian karena kontrol pemerintah yang menghalangi mereka menaikkan harga lebih tinggi dari rekor harga minyak mentah kepada konsumen.

Malaysia juga mensubsidi sangat besar terhadap harga minyak eceran, namun para pejabat memperkirakan dengan harga minyak $100 per barel, pemerintah harus mengeluarkan 35 miliar ringgit (US$10 miliar) subsidi bahan bakar setiap tahun.

PM Abdullah Ahmad Badawi sudah mengisyaratkan akan segera mengurangi subdisi dimaksud, kendati tidak mengungkapkan kapan akan dilakukan.

0 Comments: