-->

Senin, 14 Januari 2008

Harga Minyak 2008, berkisar diangka $ 75 - $ 150/barrel

Harga Minyak 2008, berkisar diangka $ 75 - $ 150/barrel
oleh : zulfikar
Perkiraan para analis memperkirakan bahwa harga minyak dunia masih bersifat fluktuatif, harga minyak bisa saja tembus sampai di kisaran $ 150/barrel, namun bisa saja turun ke angka $ 75 /barrel, hal ini dkarenakan ada beberapa hal yang menjadi pertimbangan


Kalangan ekonom menuding Republik Rakyat Tiongkok (RRT) dan India yang ’lapar energi’ sebagai penyebabnya, mengingat booming perekonomian di kedua raksasa Asia tersebut.

Belum lagi persoalan lainnya, seperti mengeringnya sejumlah ladang minyak di Meksiko, Amerika Serikat (AS), dan beberapa produsen minyak lainnya di dunia, yang menjadi pertanda ketatnya pasokan minyak dunia.

Faktor lainnya termasuk sikap Presiden Venezuela Hugo Chávez yang menggunakan minyak sebagai senjata politik, kelangkaan suplai minyak untuk musim dingin di belahan Bumi utara, dan ulah para pemberontak di Nigeria yang membakar sejumlah ladang minyak, produsen paling produktif di Afrika itu.

“Prediksi harga minyak yang terus-menerus menunjukkan ’bahaya ramalan’ karena harga minyak merupakan turunan dari apa yang terjadi dalam ekonomi dan geopolitik global,” jelas Daniel Yergin, chairman Cambridge Energy Research Associates, kepada International Herald Tribune, awal bulan ini.
Yergin memperkirakan, harga minyak bakal melambung hingga US$ 150 per barel atau malah merosot di level US$ 40 dalam beberapa tahun ke depan.

Pendapat yang sama disampaikan Presiden Devon Energy Corporation John Richels.
Menurut dia, angka US$ 150 per barel itu kemungkinan akan terjadi, juga penurunan di posisi US$ 55 per barel.

“Kami harus berinvestasi berdasarkan outlook jangka panjang dan itu sangat sulit,” tukas Richels.
Goldman Sachs memperkirakan, minyak akan berada di harga US$ 105 per barel pada akhir 2008.

Sedangkan Leo Drollas dari Pusat Studi Energi Global (CGES) meramalkan, minyak berada di posisi US$ 90 per barel pada semester pertama tahun ini dan kemungkinan melonjak ke level US$ 100 per barel, dipicu oleh tingginya permintaan minyak pemanas karena musim dingin di utara.

“Ada kondisi-kondisi yang membuat kami memprediksi harga minyak US$ 100 per barel, seperti musim dingin, ketatnya suplai Organisasi Negara-negara Eksportir Minyak (OPEC), atau tidak bertambahnya suplai minyak negara non-OPEC seperti yang kami perkirakan,” jelas Drollas dilansir AFP.

Sepanjang 2007 lalu, OPEC memproduksi minyak sekitar 1 juta barel per hari (bph). Jumlah itu disebut John Felmy, kepala ekonom pada American Petroleum Institute di Washington, jauh lebih kecil ketimbang perkiraan.

Dia meminta OPEC untuk menambah produksinya karena tahun ini pasar energi memerlukan pasokan yang lebih besar dari jumlah tersebut.

“Saya dengar Arab Saudi (produsen terbesar OPEC) memompa tambahan minyak sebesar 400.000 bph. Kita lihat saja apakah itu akan berlanjut,” tegas Felmy.

AS Resesi

Kenaikan harga minyak selama beberapa bulan terakhir dibarengi dengan kejatuhan pasar perumahan dan pasar kredit, membuat para ekonom sanksi jika kondisi ini bakal menjerumuskan ekonomi AS dalam resesi.
Resesi tentu saja bakal memangkas permintaan minyak dan mendorong turun harga minyak. Atau sesuai dengan hukum ekonomi, semakin kecil daya beli konsumen, semakin sedikit produksi dan ekspor. Itu berarti bahwa perdagangan global bakal melesu.

“Jika ekonomi AS melesu, kami tidak akan membeli banyak barang dari RRT dan jasa dari India. Perkiraan saya, 2008 ini harga minyak mentah berada di kisaran US$ 75 per barel, itu dengan asumsi ekonomi AS akan melambat,” kata Addison Armstrong, direktur riset pasar pada Tradition Energy.

Tetapi, Armstrong mengingatkan, berlarut-larutnya pemberontakan di Nigeria, badai musim dingin di utara, dan peristiwa-peristiwa tak terduga lainnya dapat menyeret naik harga minyak.

Jadi, apa alasan kenaikan harga minyak saat ini? Padahal, situasi di Irak membaik, ekspor negara tersebut juga sudah mulai pulih secara perlahan, dan eskalsi ketegangan antara AS dengan Iran juga tidak signifikan.

Menurut para pakar, jawabannya bergantung pada keputusan investasi yang dilakukan para trader dan hedge fund. Gejolak pasar ekuitas, perumahan, kredit, dan finansial di AS saat ini membuat para trader dan hedge fund mengalihkan investasi mereka ke sektor perminyakan dan beberapa komoditas lain yang dianggap menjadi safe haven.

Richels dari Devon Energy mengungkapkan, para konsumen di Eropa dan Jepang tidak merasakan tekanan sama seperti yang dirasakan konsumen AS karena mata uang mereka kuat dan tidak lemah.
“Masih akan banyak permintaan di luar AS. Terjadi peningkatan konsumsi minyak terutama di sejumlah negara berkembang, dan itu sebabnya minyak semakin sulit dicari,” jelas Richels.

Turun

Sebagian besar pakar energi yakin harga minyak pada 2008 akan turun di kisaran US$ 85-85 per barel. “Tahun depan (2008), minyak kami prediksi berada di kisaran US$ 80-85 per barel. Dan jika AS resesi, prediksi harga itu lebih rendah lagi,” jelas Rick Mueller, analis pada Energy Security Analysis of Wakefield, Massachusetts.

Kisaran harga yang diperkirakan para analis sebesar US$ 80-85 per barel itu masih di atas harga rata-rata minyak 2007 sebesar US$ 71 per barel.

Bob Gay dari Fenwick Advisers mengatakan, prospek minyak di bawah US$ 100 per barel dapat membantu ekonomi. “Itu akan sedikit mengikis tekanan konsumen.

Tetapi, di atas US$ 100 per barel adalah titik lemah,” jelas Gay seperti dilansir Christian Science Monitor.
Phil Flynn, wakil presiden dan analis pasar pada Alaron Trading Corporation di Chicago, mengiyakan bahwa tahun ini harga minyak lebih cenderung menurun ketimbang naik.

Menurut dia, faktor-faktor penyebab kenaikan harga minyak seperti yang terjadi Pada 2007 tidak bakal berulang pada 2008. Lagipula, dolar AS juga akan menemukan titik keseimbangannya tahun ini dan persoalan di pasar perumahan bisa diserap dengan baik oleh pasar.

Meski turun, jumlah penurunan itu diperkirakan tidak akan banyak. Malahan beberapa analis meyakini penurunan itu tidak akan terjadi dalam waktu lama.

US$ 70 -110 Per Barel

Sementara itu, Kurtubi, seorang pengamat migas dalam negeri memprediksi bahwa harga minyak dunia pada 2008 masih akan berfluktuasi pada level US$ 70 -110 per barel. Menurut dia, harga bisa saja turun pada level US$ 70 per barel kalau negara-negara minyak melepaskan kapasitas cadangan mereka saat permintaan melemah pada kuartal kedua. “Namun harga minyak tidak akan lebih rendah dari US$ 70 per barel,” kata Kurtubi kepada Investor Daily.

Namun Kurtubi juga memperkirakan bahwa harga minyak bisa saja mencapai US$ 110 per barel pada kuartal satu dan empat jika Arab Saudi tidak melepas cadangannya. Selain itu, isu geopolitik seperti memanasnya ketegangan Iran-AS dan masalah konflik etnis di Nigeria yang berlarut-larut bisa memengaruhi harga minyak. Secara keseluruhan rata-rata harga minyak dunia pada 2008 berada pada level US$ 90 per brrel.

Saat ditanya tentang adanya kemungkinan penambahan produksi minyak, Kurtubi menjelaskan bahwa hal ini baru bisa terjadi pada 2009. Dia memprediksikan adanya tambahan produksi dari negara-negara non-OPEC. Namun hal ini baru terwujud pada 2009 karena saat ini negara-negara tersebut sedang dalam proses pembangunan struktur dan lapangan minyak.

Menyinggung dampak lonjakan harga minyak pada dunia, Kurtubi menuturkan bahwa kenaikan harga minyak dunia hingga US$ 110 tidak akan membawa perubahan besar bagi ekonomi.

“Dampaknya juga tidak terlalu berimbas pada pertumbuhan ekonomi. Namun kenaikan ini bisa memperlemah perdapatan domestik bruto namun tidak sampai menyebabkan inflasi atau resesi,” kata Kurtubi.

Sementara itu, dampak yang dirasakan oleh Indonesia adalah tekanan yang berat bagi APBN, kenaikan inflasi, terpukulnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS, dan kemungkinan penambahan impor minyak. Menurut Kurtubi, dengan kebijakan impor ini, devisa lebih besar diperlukan untuk impor.

0 Comments: