-->

Minggu, 20 Januari 2008

Bisnis Alat Barat Menjanjikan Tahun 2008

Bisnis Alat Barat Menjanjikan Tahun 2008
oleh : zulfikar
Diperkirakan sepanjang 2008 akan naik 40% dibandingkan 2007.”Paling tidak untuk konstruksi prasarana dan sarana saja bernilai sekitar Rp7 triliun,” ungkap Presdir GM Tractors Tjandi Mulyono, Jumat (18/1)

Belum lagi bencana alam yang terus menerus melanda Indonesia sehingga membutuhkan alat-alat berat untuk merekonstruksi infrastruktur yang rusak Selain itu, harga palm oil juga semakin tinggi sehingga merangsang minat investor untuk memperluas kebun sawit.

Hal lainnya, seperti peningkatan budget Departemen PU yang pada 2008 berjumlah dua kali lipat dari 2007 atau sebesar Rp34 triliun.




Dari sisi lain, lahirnya kebijakan pemerintah untuk menghentikan impor alat berat bekas yang tertuang dalam SK Mendag No.39/M-Dag/per/12/2005. Di dalam SK ini diatur bahwa impor alat berat bekas hanya berlangsung hingga akhir Desember 2007.

Keoptimisan memasuki pasar Indonesia, membuat China juga mulai memperkenalkan alat beratnya. Dibandingkan produk Jepang, kualitas produk China hanya 80%-90% dari kualitas produk Jepang. Tetapi dari sisi harga, produk China hanya 60%-70% dari harga produk Jepang.

”Bahkan harga alat berat bekas Jepang hampir sama dengan harga barang baru dari China,” ujar Mulyono.

Diungkapkan pula, besarnya pasar alat berat merangsang bank dan lembaga pembiayaan bersaing untuk turut memasuki pasar ini.

Seperti Buana Finance, Clippan Finance, Tifa Finance dan Astra Credit Company (ACC), Bank Danamon, Bank Sinarmas, Bank Lippo, Bank Mestika Dharma, BNI, Bukopin dan Bank Mega.

Jenis alat berat yang paling laku saat ini, buldozer, wheel loader dan motor grader. Dari semua alat berat yang dipasarkan, pelaku industri memfokuskan pada tiga bidang usaha.

Diantaranya, alat berat untuk pembuatan jalan (sarana transportasi), mining (pertambangan khususnya tambang batu bara), serta perkebunan (khususnya perkebunan kelapa sawit).

0 Comments: