BI Memprediksi Inflasi 2008 capai 6.3 %
Oleh : zulfikar
BI (Bank Indonesia) memprediksi laju inflasi 2008 tembus 6,3% jika pemerintah tidak segera membenahi distribusi barang. Bila inflasi tahun ini tembus 6,3%, berarti target inflasi tahunan (year on year/yoy) dalam APBN 2008 sebesar 6% kembali meleset. Pada 2007, laju inflasi juga lebih tinggi dari target pemerintah. Dalam APBN-P 2007, inflasi dipatok 6%, namun realisasinya mencapai 6,59%.
Oleh : zulfikar
BI (Bank Indonesia) memprediksi laju inflasi 2008 tembus 6,3% jika pemerintah tidak segera membenahi distribusi barang. Bila inflasi tahun ini tembus 6,3%, berarti target inflasi tahunan (year on year/yoy) dalam APBN 2008 sebesar 6% kembali meleset. Pada 2007, laju inflasi juga lebih tinggi dari target pemerintah. Dalam APBN-P 2007, inflasi dipatok 6%, namun realisasinya mencapai 6,59%.
Gubernur BI Burhanuddin Abdullah mengatakan, pihaknya akan lebih berhati-hati mencapai sasaran inflasi karena tekanan ke depan relatif kuat. “Para peneliti BI berkesimpulan bahwa pencapaian inflasi akhir tahun bisa melebihi target 5 plus minus 1%, yaitu sekitar 6,3% jika pemerintah tidak melakukan apa-apa,” ujar Burhanuddin di Jakarta, Selasa (8/1).
Menurut dia, untuk mencapai inflasi sesuai target, pemerintah harus membenahi distribusi barang dan penyediaan bahan kebutuhan pokok. Bank sentral akan mendukung upaya tersebut dengan menstabilkan nilai tukar dan terus mencermati operasionalisasi kebijakan moneter. “Kalau itu bisa dilakukan dengan baik, target inflasi 5 plus minus 1% masih bisa tercapai,” tuturnya.
Melihat masih kuatnya tekanan inflasi ke depan, kata Burhanuddin, BI akan lebih berhati-hati mengambil kebijakan suku bunga. Itu sebabnya, dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI, kemarin, bank sentral menahan suku bunga acuan (BI rate) pada level 8%.
“Keputusan itu diambil setelah kami mengevaluasi kondisi makro ekonomi 2007, prospek ekonomi moneter ke depan, dan berbagai risiko yang dihadapi,” paparnya.
Dia menambahkan, langkah itu juga sebagai upaya BI mencapai sasaran inflasi 5 plus minus 1% pada 2008, 4,5 plus minus 1% pada 2009, dan 4 plus minus 1% pada 2010.
Perkiraan Pertumbuhan Ekonomi
Burhanuddin Abdullah juga memperkirakan pertumbuhan ekonomi nasional pada 2007 mencapai 6,3%. Angka itu merupakan rekor tertinggi sejak krisis 1997. Padahal, perekonomian nasional menghadapi tekanan perlambatan ekonomi global akibat krisis kredit perumahan berisiko tinggi (subprime mortgage) di AS yang memicu memicu gejolak pasar uang dan meningkatnya harga minyak dunia.
“Komponen terbesar penggerak pertumbuhan ekonomi kita masih didominasi konsumsi dan ekspor yang dibantu membaiknya investasi swasta,” ujarnya.
Dia memperkirakan pertumbuhan ekonomi nasional pada 2008 mencapai 6,5% yang kemungkinan besar masih ditopang konsumsi swasta. Prediksi itu lebih pesimistik dibandingkan asumsi pemerintah dalam APBN 2008 sebesar 6,8%.
Direktur Riset Ekonomi dan Kebijakan Moneter BI Made Sukada mengatakan, membaiknya kinerja perekonomian nasional pada 2007 tercermin pada menurunnya angka pengangguran dan tercapainya pertumbuhan investasi sebesar 12%.
Kedua komponen ini menyumbang pertumbuhan ekonomi yang berkualitas sampai 2009. “Pertumbuhan ekonomi kuartal IV-2007 berdasarkan penghitungan sementara mencapai 6,5%, tapi rata-rata setahun 6,3%,” ucapnya.
Dia menambahkan, gini ratio (perbandingan yang menunjukkan ketimpangan kaya-miskin) pada 2007 turun sejalan dengan membaiknya pemerataan pusat ke daerah.
Secara terpisah, Menko Perekonomian Boediono mengemukakan, keputusan RDG BI mempertahankan BI rate pada level 8% tidak akan mengganggu pencapaian berbagai target ekonomi 2008.
Menurut dia, pemerintah mendukung langkah BI karena keputusan tersebut sudah didasarkan pada pertimbangan matang. “Intinya adalah soal kehati-hatian," ujarnya.
Ihwal upaya pemerintah memacu pertumbuhan investasi yang pada 2007 masih di bawah 10% dari target 12%, Boediono menjelaskan, suku bunga hanya merupakan salah satu pendukung pertumbuhan investasi. Faktor utama pendorong investasi sebenarnya adalah iklim investasi.
Direktur Perencanaan Makro Kementerian Negara PPN/Bappenas Bambang Prijambodo menilai langkah BI menahan BI rate pada level 8% sebagai kebijakan yang tepat dalam merespons kuatnya tekanan inflasi.
Menurut Direktur Danareksa Research Institute (DRI) Purbaya Yudhi Sadewa, keputusan BI mempertahankan BI rate pada level 8% sesuai ekspektasi pasar.
Chief Economist Bank Mandiri Marthin Panggabean mengungkapkan, ada dua hal utama yang menjadi alasan BI menahan BI rate. Pertama, tekanan inflasi hingga beberapa bulan ke depan masih cukup tinggi. Kedua, belum adanya kepastian penurunan suku bunga The Fed pada Februari mendatang.
Hal senada dikemukakan ekonom Lippo Bank Winang Budoyo, ekonom Citibank Anton Gunawan, dan anggota Komisi XI DPR Andi Rahmat

0 Comments:
Post a Comment