-->

Kamis, 30 April 2009

Q-I, Laba Bank Mandiri, BNI, BRI & BCA Naik

Q-I, Laba Bank Mandiri, BNI, BRI & BCA Naik
oleh : zulfikar
Di tengah ancaman krisis finansial global, laba bersih bank-bank papan atas cukup menggembirakan hingga kuartal I-2009. Lonjakan tersebut ditopang oleh kenaikan pendapatan bunga bersih dan pendapatan operasional lain.Dari tujuh bank papan atas yang telah menyampaikan laporan keuangan pada 31 Maret 2009, PT Bank NegaraIndonesia Tbk (BNI) mencetak laba bersih tertinggi, yakni 315%. Dari sisi nominal, PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BRI) meraih laba terbesar sejak empat tahun terakhir. Laba bersih BRI mencapai Rp 1,72 triliun atau naik 21,98%, dan disusul PT Bank Central Asia Tbk (BCA) senilai Rp 1,6 triliun atau tumbuh 41,8%. Sedangkan laba bersih PT Bank Mandiri Tbk tercatat Rp 1,4 triliun.Di samping itu, pertumbuhan kredit tetap tinggi. Kredit Bank Mandiri naik 30,5% menjadi Rp 176,9 triliun, BNI 29%, dan BCA 27,58%. Kredit PT Bank Permata Tbk melonjak 25% menjadi Rp 35,2 triliun dan PT CIMB Niaga Tbk 15%.Deputi Kementerian Negara Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Bidang Perbankan dan Jasa Keuangan Parikesit Suprapto mengatakan, kinerja keuangan bank BUMN terbaik pada Maret 2009 diraih BRI. Bahkan, aset dan laba bersih BRI dalam tiga bulan terakhir merupakan terbagus dibandingkan bank-bank BUMN lainnya. Namun, Parikesit tidak bersedia menjelaskan angka pastinya. “Meskipun kinerja keuangan BRI semakin baik, modalnya kian tergerus. Pasalnya, rasio kecukupan modal (capital adequacy ratio/CAR) berkisar 15-16%. Secara umum, kinerja keuangan bank-bank BUMN masih bagus. NPL (non performing loan) masih berada di bawah 5%," kata dia di Jakarta, Rabu (29/4).Menurut rencana, manajemen BRI baru mengumumkan laporan keuangan pada akhir Maret 2009 hari ini. Dihubungi terpisah, Direktur Bisnis Umum BRI Sudaryanto Sudargo menjelaskan, kenaikan laba bersih disumbang usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang menjadi andalan kredit perseroan yang tidak terkena dampak krisis. NPL kredit UMKM tidak besar dan BRI berhasil menjaga porsi kredit yang selama ini dititikberatkan pada UMKM.


Sementara itu, laba bersih BNI melonjak 315% dari Rp 153 miliar menjadi Rp 635 miliar. Sampai akhir tahun, laba bersih perseroan berpotensi menembus lebih dari Rp 2,54 triliun, naik pesat dibandingkan tahun 2008 senilai Rp 1,22 triliun. Kontribusi laba berasal dari pendapatan bunga bersih yang tumbuh 24,2% menjadi Rp 2,77 triliun. Pendapatan itu setara dengan 30% dari perolehan tahun 2008 senilai Rp 9,91 triliun. Pendapatan berbasis biaya turut meningkat 44% dari Rp 842 miliar menjadi Rp 1,21 triliun. Direktur Utama BNI Gatot M Suwondo mengatakan, pihaknya menargetkan fee based income tahun ini sekitar Rp 3-4 triliun. Sedangkan recurring fee diharapkan dapat mencapai Rp 4 triliun dibandingkan pada kuartal I-2009 sebesar Rp 994 miliar. “Ke depan, kami melihat pendapatan bunga semakin tertekan, sehingga perlu dioptimalkan lagi fee based income,” kata dia, kemarin. Dia memaparkan, sumber pendapatan nonbunga berasal dari jasa perbankan, antara lain ATM, pengelolaan rekening, transaksi ekspor impor, dan pendapatan dari kartu kredit.



BCA Fantastis

BCA juga mencatat laba bersih yang cukup fantastis. Laba bersih sebesar Rp 1,6 triliun itu disumbang peningkatan pendapatan bunga bersih yang melonjak 51,1% dan fee based income 31,9%. Penurunan tarif pajak turut menopang kenaikan laba bersih. "Pertumbuhan laba bersih ikut menyebabkan peningkatan return on assets (ROA) dan return on equity (ROE) masing-masing 3,3% dan 30,6%," tandas Direktur Utama BCA DE Setijoso, kemarin.Menurut Setijoso, peningkatan pendapatan bunga yang bersih menjadi Rp 3,9 triliun per akhir Maret 2009 diperoleh dari kombinasi dana pihak ketiga (DPK) dan komposisi aset yang seimbang. Hal tersebut mendorong marjin bunga bersih tumbuh menjadi 7,1%.Dia menjelaskan, dana murah, seperti tabungan dan giro terjaga pada level 75% terhadap total DPK. Pada kuartal I-2009, DPK tumbuh 14% secara year on year (yoy) menjadi Rp 209,5 triliun. Saldo tabungan juga meningkat 13% menjadi Rp 110 triliun dan giro 12,6% menjadi Rp 45,5 triliun. "Kami bisa mempertahankan biaya dana yang rendah, namun dengan risiko yang tinggi dan biaya kapital yang cukup besar. Kalau dihitung dengan rate adjustment, marjin masih berada dalam batas yang wajar," ungkap dia.Fee based income BCA juga tumbuh menjadi Rp 1 triliun seiring pendapatan dari jasa layanan rekening, transaksi, dan pendapatan valuta asing. Untuk tambahan laba bersih perseroan akibat penurunan tarif pajak, lanjut dia, disebabkan BCA mendapat pemotongan tarif yang pajak 5% sesuai aturan yang berlaku. Itu berarti, perseroan hanya membayar pajak penghasilan menjadi 25% dari sebelumnya 30%.



Faktor Provisi

Direktur Utama Bank Mandiri Agus Martowardojo memaparkan, peningkatan laba bersih dipicu perbaikan marjin bunga bersih (net interest margin), fee based income, dan pengendalian biaya yang cukup baik. Pendapatan bunga bersih mencapai Rp 4,39 triliun, naik 29,8% dibandingkan periode sama tahun lalu Rp 3,38 triliun. Sedangkan fee based income tercatat Rp 1,21 triliun atau meningkat 30,1% dari tahun sebelumnya r Rp 928 miliar. Pertumbuhan tipis itu tak lepas dari biaya penyisihan untuk aktiva produktif sebesar Rp 1,2 triliun. Perseroan menilai, kenaikan itu cukup baik, karena ditopang pendapatan bunga dan fee based income.NPL bruto Mandiri tumbuh tipis dari 5,14% menjadi menjadi 5,85%. Adapun NPL net relatif terjaga, kendati naik menjadi 1,46% daripada periode sama tahun sebelumnya 1,31%. Perlambatan pertumbuhan ekonomi, kata Agus, turut menyumbang peningkatan NPL. Agus mengakui, peningkatan NPL tidak sampai berdampak negatif terhadap kinerja keuangan pada kuartal berikutnya. Sebab, NPL masih berada dalam posisi aman dari ketentuan Bank Indonesia sebesar lima persen





0 Comments: