Reschedul Atau Grace Periode Bagi Kredit Perkebunan
oleh : zulfikar
Tajuk Pilihan
Harga komoditas terutama Kelapa sawit perlu mendapat perhatian khusus bagi perbankan, harga tersebut anjlok selama 3 bulan terakhir ke posisi Rp. 200/kg . Untuk menghindari kegagalan bayar para petani sawit terutama para plasma-plasma perkebunan, perlu diberikan keringanan skenario pertaman adalah dilakukan reshedul dan skenario kedua pemberian tambahan modal kerja untuk menutupi modal kerja.
oleh : zulfikar
Tajuk Pilihan
Harga komoditas terutama Kelapa sawit perlu mendapat perhatian khusus bagi perbankan, harga tersebut anjlok selama 3 bulan terakhir ke posisi Rp. 200/kg . Untuk menghindari kegagalan bayar para petani sawit terutama para plasma-plasma perkebunan, perlu diberikan keringanan skenario pertaman adalah dilakukan reshedul dan skenario kedua pemberian tambahan modal kerja untuk menutupi modal kerja.
Skenario Pertama
Skenario Pertama ini merupakan hal umum yang dilakukan oleh pihak perbankan apabila debitur telah memasuki kolektibiliti 2 atau 3, namun untuk hal ini perlu dilakukan kebijakan tersendiri apabila petani sudah menunjukkan indikasi pembayaran mulai telat dalam pembayaran cicilan misalnya pembayaran pada tanggal 25 namun dibayar pada tanggal 30 bahkan tanggal 1 bulan didepannya, untuk kasus seperti perlu dilakukan kebijakan secara cepat untuk menghindari kegagalan bayar dengan melakukan perpanjangan jangka waktu misalnya dari 36 bulan menjadi 60 bulan. Dan diatur cash flownya sehingga para petani diharapkan mampu membayar cicilannya kepada pihak Bank
Skenario Kedua
Skenario ini adalah pemberian modal kerja untuk perawatan kebun dan pupuk dimana skim yang diberikan adalah dengan metode grace periode proporsional atau dengan skim grace periode deminishing, dalam hal ini petani diberikan pembiayaan untuk modal kerja dan hal lainnya selama 6 s/d 12 bulan, selama waktu 6 bulan atau 12 bulan petani tidak dikenai pembayaran pokok, namun hanya bunganya saja sampai 6 atau 12 bulan atau pokok dan bunga dibayar proporsional dimana bunga grace periode tersebut dipecah menjadi 60 % bunga dan 40 % pokok contoh: jika bunga grace periode selama 6 bulan tersebut sebesar 400 ribu maka, 60 % x 400 = 240 adalah bunganya dan 40 % x 400 = 160 adalah pokoknya, sehingga pokoknya turun setiap bulan secara deminishing.
Skenario Pertama ini merupakan hal umum yang dilakukan oleh pihak perbankan apabila debitur telah memasuki kolektibiliti 2 atau 3, namun untuk hal ini perlu dilakukan kebijakan tersendiri apabila petani sudah menunjukkan indikasi pembayaran mulai telat dalam pembayaran cicilan misalnya pembayaran pada tanggal 25 namun dibayar pada tanggal 30 bahkan tanggal 1 bulan didepannya, untuk kasus seperti perlu dilakukan kebijakan secara cepat untuk menghindari kegagalan bayar dengan melakukan perpanjangan jangka waktu misalnya dari 36 bulan menjadi 60 bulan. Dan diatur cash flownya sehingga para petani diharapkan mampu membayar cicilannya kepada pihak Bank
Skenario Kedua
Skenario ini adalah pemberian modal kerja untuk perawatan kebun dan pupuk dimana skim yang diberikan adalah dengan metode grace periode proporsional atau dengan skim grace periode deminishing, dalam hal ini petani diberikan pembiayaan untuk modal kerja dan hal lainnya selama 6 s/d 12 bulan, selama waktu 6 bulan atau 12 bulan petani tidak dikenai pembayaran pokok, namun hanya bunganya saja sampai 6 atau 12 bulan atau pokok dan bunga dibayar proporsional dimana bunga grace periode tersebut dipecah menjadi 60 % bunga dan 40 % pokok contoh: jika bunga grace periode selama 6 bulan tersebut sebesar 400 ribu maka, 60 % x 400 = 240 adalah bunganya dan 40 % x 400 = 160 adalah pokoknya, sehingga pokoknya turun setiap bulan secara deminishing.
Apabila skim tersebut diterapkan, mungkin akan memberikan keringanan bagi para petani. dan petani tidak secara gegabah untuk membakar kebunnya dan menjual kebunnya, karena selama ini para petani telah terbukti keuletannya dalam menghadapi krisis, hal ini dikarenaka dimana kebun sawit yang mereka kelola menghasilkan selama 4 tahun, dan selama 4 tahun itu juga mereka makan seadanya. Krisis TBS ini dimungkinkan tidak berlangsung lama diperkirakan selama 12 bulan. Disamping itu juga kebutuhan minyak goreng dalam negeri masih cukup banyak sehingga permintaan terhadap TBS juga masih tetap ada, dan kebanyakan juga banyak pengusaha pabrik PKS yang memliki kebun yang sedikit sementara produksi mereka tetap tinggi sehingga membutuhkan TBS dari petani dan ini juga memberikan point tersendiri bagi para petani kebun.
Secara fundamental bisnis TBS masih tetap baik, dan kebijakan perbankan serta kreatifitas pihak perbankan untuk menciptakan produk kredit dalanm krisis seperti ini sangat dibutuhkan untuk menghindari NPL yang berkelanjutan

0 Comments:
Post a Comment