-->

Kamis, 23 Oktober 2008

Kredit Membeli Dollar Perlu Di khawatirkan

Kredit Membeli Dollar Perlu Di khawatirkan
oleh : zulfikar
Bank tidak berani menubruk dolar AS sembarangan menyusul bertambahnya likuiditas setelah Bank Indonesia kembali memberikan pelonggaran berupa penurunan setoran ke giro wajib minimum (GWM), yang dikhawatirkan justru debitor mengambil kredit untuk membeli dolar AS.Wapresdir Bank Internasional Indonesia (BII) Sukatmo Padmosukarso menjelaskan masalah likuiditas bersumber dari faktor domestik dan eksternal. "Kalau faktor internasional belum jelas ujungnya, sedangkan yang domestik antara lain karena ketidakseimbangan saving dan investment yaitu pertumbuhan kredit yang jauh melampaui pertumbuhan dana pihak ketiga. Jadi solusinya harus mengerem laju pertumbuhan kredit," jelasnya di Jakarta, hari ini.Dia menambahkan likuiditas tidak berlebih dengan penurunan GWM, tetapi cukup memberi kelonggaran. Menurut dia, bank tidak berani menubruk dolar AS sembarangan. Justru yang dikhawatirkan debitor mengambil kredit untuk membeli dolar AS.Bank Indonesia menurunkan setoran GWM bank menjadi 5% dari dana pihak ketiga dari sebelumnya 7,5% berlaku selama satu tahun. Pemenuhan terbagi atas GWM utama (statutory reserve) dan GWM sekunder (secondary reserve). Untuk yang utama, bank wajib membayar 5% berupa simpanan giro di BI. Adapun untuk GWM sekunder, bank wajib memenuhi 2,5% dalam bentuk sertifikat Bank Indonesia dan surat utang negara atau simpanan giro di BI.Likuiditas bank yang makin bertambah menyusul penurunan setoran GWM ini, kabarnya tidak disalurkan ke kredit maupun pinjaman antarbank. Hal ini disebabkan bank lebih nyaman mempertahankan likuiditas yang dimiliki untuk memperkuat kinerja internal khawatir krisis finansial bakal makin memburuk. Akibatnya, bank yang masih kekurangan likuiditas tentu akan kesulitan mencari dana di pasar uang. Di sisi lain, penempatan di SBI akan makin besar karena dana bank tidak tersalur ke kredit maupun interbank. Ujung-ujungnya ongkos moneter Bank Indonesia makin membengkak.


BI kabarnya juga melakukan on site supervision di bank-bank besar untuk memantau pembelian dolar AS. Pasalnya, likuiditas dolar AS yang masih ketat mengakibatkan tingginya permintaan dolar AS. Direktur Credit Suisse Mirza Adityaswara menilai yang penting likuiditas rupiah tersedia dulu, setelah itu nanti pada waktu keadaan mulai agak stabil, bank pasti akan menyalurkan kredit lagi. "Sekarang kan situasinya masih belum stabil," tegasnya.Sementara itu, bankir bank BUMN terbesar menilai pelonggaran oleg BI masih efektif walau tidak seoptimal saat normal. "Likuiditas bukan hanya untuk salurkan kredit, tetapi bisa untuk kebutuhan penarikan dana nasabah, pembayaran kewajiban (misalnya untuk LC impor), pembayaran utang jatuh tempo, dan biaya operasional,' jelasnya.Likuiditas bank makin kuat, lanjutnyan, lantaran sektor ini menjadi transmitor utama krisis bila fundamentalnya rapuh. Kredit, lanjutnyan, masih bisa ditunda penyalurannya apalagi kondisi pengusaha untuk investasi baru masih wait and see. "Tetapi kalau bank gagal memenuhi kebutuhan dana nasabah dan kewajiban, bisa lebih berdampak sistemik," tegasnya

0 Comments: