-->

Senin, 27 Oktober 2008

Hedge Fund Terkena Redemption US$ 10 Triliun

Hedge Fund Terkena Redemption US$ 10 Triliun
oleh : zulfikar
Kehancuran pasar finansial global memicu lebih dari US$ 10 triliun (Rp 100.000 triliun) lenyap di pasar saham hanya dalam sebulan ini. Sementara itu, para hedge fund global dilanda redemption besar-besaran menyusul aksi jual masif yang terburuk dalam lima dekade.Lebih dari US$ 10 triliun telah hilang di pasar saham karena anjloknya harga saham di seluruh dunia. Jumlah tersebut mencapai sekitar sepertiga dari total kerugian di pasar saham sepanjang tahun ini yang bernilai sekitar US$ 30 triliun.Menurut data Bloomberg, indeks MSCI di pasar saham negara maju maupun emerging markets telah merosot 48% pada tahun ini. Bersamaan dengan itu, kerugian di pasar kredit telah menembus US$ 660 miliar.Sepanjang tahun ini, indeks Standard & Poor's 500 dan FTSE terjerambab 40%, penurunan tahunan terburuk sejak 1931. Indeks Nikkei 225 dan Kospi anjlok 50%. Sedangkan IHSG di BEI, indeks Strait Times, dan Hang Seng sama-sama terpangkas 54% sepanjang tahun. Indeks Shanghai terperosok paling dalam sebesar 65%.Pada penutupan akhir pekan, Jumat (24/10), indeks Dow Jones Industrial Average ditutup merosot 312,3 poin (3,59%) ke level 8.378,95. Indeks Standard & Poor's 500 merosot 31,34 poin (3,45%) ke level 876,77. Indeks di Eropa dan Asia juga bergelimpangan.Para ekonom Deutsche Bank AG memprediksi ekonomi di negara-negara maju yang tergabung dalam G-7 akan kontraksi 1,1% tahun depan, terburuk sejak Depresi Besar. Sedangkan pertumbuhan ekonomi global akan berada di level terlemah sejak 1980-an.

Hedge Fund Merugi
Sementara itu, hedge funds global menghadapi tekanan akibat aksi jual masif terburuk dalam 50 tahun, menyusul gelombang penarikan dana (redemption) oleh para investor. “Hedge fund di Amerika Serikat kehilangan 15% aset hingga akhir tahun, sementara Eropa tergerus 25%,” ungkap Huw van Steenis, analis Morgan Stanley di London, seperti dikutip Bloomberg.Dikombinasikan dengan kerugian investasinya, aset hedge fund global diprediksi menyusut US$ 1,3 triliun, anjlok 32% dari posisi puncak Juni lalu.Bila rata-rata aset hedge fund turun 18% tahun ini, seperti diukur dari indeks HFRX Global, para pengelola hedge fund harus membayar dana-dana investor yang menarik dana dan melunasi kewajiban ke kreditor. Kondisi ini dialami oleh Paulson & Co dan Winton Capital Management LLC yang saat ini kesulitas uang tunai.“Saya belum pernah menyaksikan sebegitu panik seperti dalam tujuh atau delapan pekan terakhir,'' kata Kenneth Griffin, pendiri Citadel Investment Group LLC, hedge fund yang berbasis di Chicago. Citadel terpaksa harus mengeluarkan US$ 8 miliar atau 30% aset karena penarikan dana oleh investor.Menurut CEO Citadel Gerald Beeson, perusahannya tidak menderita kerugian dari transaksinya dengan mitra sesama hedge fund, seperti Wellington dan Kensington, yang asetnya dikabarkan tergerus 35% per 17 Oktober lalu.Aset Passport Management LLC's Global Strategy juga jatuh 27% bulan ini atau 34% sejak awal tahun karena investasinya di komoditas yang harganya kini anjlok. Platinum Asset Management LP yang berbasis di New York rugi 29% selama Oktober ini.Para investor menarik dananya dari hedge fund sebesar US$ 43 miliar pada September lalu, menurut TrimTabs Investment Research di Sausalito, California. Ini merupakan rekor redemption bulanan tertinggi.


Harga Minyak US$ 64
Seiring terjungkalnya indeks harga saham global, Jumat pekan lalu, harga minyak mentah kembali jatuh. Pasar tidak menggubris keputusan OPEC yang memangkas produksi 1,5 juta barel per hari mulai 1 November.Harga minyak light sweet di New York Merchantile Exchange (Nymex) untuk pengiriman Desember turun US$ 3,69 menjadi US$ 64,15 per barel. Minyak Brent North Sea di London turun US$ 3,42 menjadi US$ 62,05 per barel, setelah sempat menyentuh posisi US$ 61 per barel."Meski OPEC telah memutuskan pemangkasan produksi, harga minyak tetap turun, karena pasar secara psikologis lebih terpengaruh oleh memburuknya pasar secara keseluruhan," kata Mike Fitzpatrick dari MF Global, seperti dikutip AFP.OPEC yang beranggotakan 12 negara produsen minyak menguasai 40% pasar minyak dunia. Negara OPEC sangat menikmati kenaikan harga minyak tahun ini yang sempat mencapai US$ 147 per barel pada 11 Juli 2008.Turunnya produksi OPEC juga ditanggapi sinis oleh negara-negara Barat. Gedung Putih bahkan menyebut OPEC sebagai antipasar karena penurunan saat ini terjadi karena imbas dari resesi global yang membuat permintaan turun.Perdana Menteri Inggris Gordon Brown kecewa atas keputusan OPEC dan menilainya sebagai keputusan yang tidak bertanggung jawab dalam kondisi ekonomi yang sedang krisis.

0 Comments: