-->

Sabtu, 20 September 2008

Pemerintah Kucurkan Rp. 125 T Untuk Longgarkan Likuiditas

Pemerintah Kucurkan Rp. 125 T Untuk Longgarkan Likuiditas
oleh : zulfikar
Pemerintah siap mengucurkan dana Rp125 triliun untuk melonggarkan likuiditas yang kini tengah terjadi di pasar keuangan. Secara bertahap dana surplus pemerintah di Bank Indonesia akan diguyurkan ke pasar. Untuk tahap awal, pemerintah akan memberikan dana sebesar Rp18 triliun untuk membayar gaji pegawai negeri. Tahap selanjutnya pemerintah akan mempercepat penyerapan anggaran dan menargetkan penyerapan anggaran sebesar Rp25 triliun pada Oktober, Rp25 triliun pada November, dan Rp60 triliun pada Desember. "Untuk likuiditas, saya akan percepat penyerapan anggaran. Pertama untuk membayar gaji pegawai. Selanjutnya, untuk disbursment dari Daftar Isian Pelaksana Anggaran (DIPA) itu kan sudah siap dan kemungkinan akan cair. Kita lihat polanya, untuk Oktober-Desember nanti akan cair di luar gaji itu, kira-kira Rp25 triliun, Rp25 triliun dan sekitar Rp60 triliun pada Desember," jelas Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati di Jakarta, Jumat (19/9). Menurutnya, pemerintah telah melakukan antisipasi jangka pendek untuk permasalahan ketatnya likuditas. Pemerintah meminta semua pihak untuk tidak panik karena pemerintah memunyai cukup banyak dana segar yang siap diturunkan ke pasar. Posisi surplus pemerintah saat ini bertambah dari Rp120 triliun pada pertengahan September menjadi Rp125 triliun pada akhir pekan lalu. "Posisi surplus saya saat ini Rp125 triliun, baik dalam bentuk valuta asing maupun Rupiah. Jadi sekarang ini sebenarnya cuma masalah miss match saja," ujarnya. Namun, kabar yang beredar pemerintah telah mengucurkan dana masing-masing Rp2 triliun ke beberapa bank nasional secara tegas dibantah Menkeu. "Kalau pemerintah mau placement di bank, saya harus konsultasi ke BI. Karena urusan likuiditas adalah BI yang mengatur," tegasnya.


Pengaruh gejolak pasar keuangan telah meningkatkan kekhawatiran bank terhadap ketersediaan likuiditas ke depan. Dampaknya, bank pun meningkatkan cadangan likuiditasnya. Kebutuhan bank akan likuiditas semakin besar mengingat menjelang hari raya bank harus menyediakan uang tunai yang cukup banyak. Oleh krena itu, dengan besarnya dana yang dimiliki pemerintah, pihaknya berharap perbankan menghentikan perang bunga deposito. Ketatnya likuiditas menyebabkan perbankan menawarkan suku bunga deposito di atas 13% untuk menarik dana dari masyarakat. "Karena merasa belum cukup punya likuiditas, terus mengejar-ngejar dan akhirnya menawarkan deposito tinggi. Itu kan enggak boleh karena membuat kita kesulitan. Makanya, saya minta supaya bank-bank ini tidak memiliki urgensi untuk mengejar likuditas hanya karena miss match dari cash flow-nya," paparnya

0 Comments: