-->

Jumat, 19 September 2008

Kredit Di Sektor Industri Berpeluang Timbulkan Kolektibiliti

Kredit Di Sektor Industri Berpeluang Timbulkan Kolektibiliti
oleh : zulfikar
Terus melonjaknya suku bunga Bank Indonesia (BI Rate) hingga mencapai 9,25% berpotensi menimbulkan kredit macet sektor industri. "Akan terjadi kebijakan uang ketat, tight money policy. Kredit menjadi semakin mahal, kredit yang sudah berjalan berpotensi macet," ujar Hidayat, Ketua Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Kadin), di Jakarta, Jumat (19/9). Dengan suku bunga demikian tinggi, maka pengusaha akan kesulitan membayar bunga kredit dan mempertimbangkan resiko kredit macet untuk mengambil nilai kredit yang baru. "Nilainya bisa mencapai ratusan miliar. Karena meski beberapa komoditas turun harga, namun terjadi juga penurunan daya serap pasar akibat resesi global yang melanda pasar utama produk kita seperti Amerika Serikat dan Uni Eropa," ujar Hidayat. Dalam suasana ketat seperti sekarang lanjut Hidayat, pengusaha sulit bergerak, semua kebijakan ekspansi bisnis tertahan. "Dengan suku bunga pinjaman mendekati 20%, terlalu mahal untuk ongkos produksi maupun biaya ekspansi usaha. Para pengusaha harus menentukan prioritas usaha. Kontinuitas produksi adalah hal utama yang harus diperhatikan," tutur Hidayat.



Upaya untuk menjaga kontinuitas produksi di tengah terus meningkatnya biaya produksi membuat pengusaha akan tetap bergantung terhadap kucuran dana perbankan. Namun tingginya tingkat suku bunga ini membuat dunia industri bersikap defensif dengan menunda pengajuan kredit. "Dengan suku bunga kredit mencapai 16%, sangat sulit bagi industri untuk berkembang lebih jauh. Idealnya, kisaran 12%-13%," tukas Hidayat. Hal lain yang dihadapi pengusaha adalah semakin ketatnya prosedur pemberian kredit oleh bank, karena mereka sedang berusaha menjaga likuiditas. Di tengah upaya pemerintah menangani makro ekonomi dan mengenjot sektor riil untuk meredam inflasi supaya bertahan dari gejolak akibat resesi yang terjadi di AS, Hidayat pesimistis suku bunga BI akan mengalami penurunan. "Saya pikir akan ada penyesuaian lagi, bisa mencapai 10%, karena pemerintah masih melihat opsi ini yang paling mujarab dan aman," kata Hidayat. Menurut Hidayat, BI seharusnya tetap mempertahankan tingkat suku bunga acuan pada level 9%. Peluang kenaikan suku bunga, sebaiknya dilakukan Desember 2008 dengan melihat potensi inflasi yang lebih tinggi pada saat lebaran, natal dan tahun baru. "Seharusnya BI menahan dulu, supaya pinjaman masih mendapat suku bunga yang reasonable," pungkas Hidayat

0 Comments: