BI akan Meneliti Pertumbuhan Kredit
oleh : zulfikar
Pertumbuhan kredit perbankan 2008 ada yang mencapai 50 %, padahal pertumbuhan rata-rata nasional sebesar 30 %-35 %.Direktur Penelitan dan Pengaturan Perbankan Bank Indonesia Halim Alamsyah mengatakan, BI akan meneliti kenapa sampai tingkat pertumbuhan kreditnya bisa mencapai 50% itu. BI juga mengimbau perbankan agar lebih rasional dalam menjalankan rencana bisnisnya. "Mungkin banknya punya rencana, ini yang sedang kami teliti, mengapa dia sangat optimis," ujar Halim yang ditemui di Gedung BI, Jakarta, Jumat (12/9/2008).Halim mengakui bahwa saat ini jumlah pertumbuhan kredit tidak seimbang dengan pertumbuhan Dana Pihak Ketiga (DPK). "Sekarang kan tidak seimbang antara kredit ygng tumbuh di atas 33%-35% beberapa bank malah ada di atas 50-60% lalu pertumbuhan DPK ada yang negatif, 5%,10%. Mereka harus melihat kembali strateginya," tambah Halim.Menurut Halim, kondisi tersebut bisa saja tidak menimbulkan masalah untuk saat ini. Namun jika dibiarkan, maka bisa-bisa likuiditas tidak akan mencukupi permintan kredit."Kalau kondisi sekarang, likuiditasnya masih cukup. Hanya nanti kalau kita lihat pertumbuhan kredit 2 kali lipat atau 3 kali lipat dari pertumbuhan dana, lama-lama terkejar. Posisi likuiditas atau kredit baru Rp 1.200 triliun dan DPR Rp 1.500 triliun, tapi kalau kita biarkan begini dia akan kejar," katanya.
oleh : zulfikar
Pertumbuhan kredit perbankan 2008 ada yang mencapai 50 %, padahal pertumbuhan rata-rata nasional sebesar 30 %-35 %.Direktur Penelitan dan Pengaturan Perbankan Bank Indonesia Halim Alamsyah mengatakan, BI akan meneliti kenapa sampai tingkat pertumbuhan kreditnya bisa mencapai 50% itu. BI juga mengimbau perbankan agar lebih rasional dalam menjalankan rencana bisnisnya. "Mungkin banknya punya rencana, ini yang sedang kami teliti, mengapa dia sangat optimis," ujar Halim yang ditemui di Gedung BI, Jakarta, Jumat (12/9/2008).Halim mengakui bahwa saat ini jumlah pertumbuhan kredit tidak seimbang dengan pertumbuhan Dana Pihak Ketiga (DPK). "Sekarang kan tidak seimbang antara kredit ygng tumbuh di atas 33%-35% beberapa bank malah ada di atas 50-60% lalu pertumbuhan DPK ada yang negatif, 5%,10%. Mereka harus melihat kembali strateginya," tambah Halim.Menurut Halim, kondisi tersebut bisa saja tidak menimbulkan masalah untuk saat ini. Namun jika dibiarkan, maka bisa-bisa likuiditas tidak akan mencukupi permintan kredit."Kalau kondisi sekarang, likuiditasnya masih cukup. Hanya nanti kalau kita lihat pertumbuhan kredit 2 kali lipat atau 3 kali lipat dari pertumbuhan dana, lama-lama terkejar. Posisi likuiditas atau kredit baru Rp 1.200 triliun dan DPR Rp 1.500 triliun, tapi kalau kita biarkan begini dia akan kejar," katanya.
Pertumbuhan kredit ini tetap kuat, meski untuk kredit infrastruktur belum menunjukkan kemajuan yang pesar. Kredit infrastruktur di sebagian perbankan bahkan terhambat oleh sejumlah masalah."Misalnya masalah penjaminan pemerintah, masalah pembebasan tanah, membuat belum terlalu cepat (kredit). Tapi sudah ada beberapa proyek yang kami lihat sudah jalan, kayak jalan tol. Sebagian pembiayaan datang dari dalam negeri, dari luar. Tapi yang jelas, permintaan kredit kita tetap akan kuat, tinggal nanti bagaimana mengatur penyediaan dana oleh perbankannya," urai Halim

0 Comments:
Post a Comment