Bank Komersial & Investment Banking Saling Menempel
oleh : zulfikar
Bisnis bank komersial atua bank umum dengan investment bank (bank investasi) saat ini cenderung saling menempel. Bank Indonesia (BI) mengingatkan investment bank dan bank umum tetap memiliki tembok yang terpisah (chinesse wall)."Investment bank yang kita kenal itu itu Danareksa, Trimegah yang kayak gitu lah. Temannya investment bank itu ada namanya komersial bank. Bank umum gak boleh main saham jadi ada Chinesse Wall yang memisahkan dua bidang ini. Jadi gak boleh menyeberang. Nah ke depan kita gak tahu perkembangannya seperti apa," kata Deputi Gubernur BI Muliaman Hadad di Jakarta, Jumat malam (27/9/2008)."Saat ini kecenderungan mereka semakin nempel oleh karena itu kemungkinan saling nempel ini menuntut modal dan kemampuan manajemen risiko semakin besar jadi kalau keduanya bersatu menjadi universal bank. Saat ini kecenderungan lebih banyak investment bank," lanjut Muliaman.Diakui Muliaman, BI kini akan terus berusaha agar risiko di pasar finansial AS yang dipicu ambruknya investment bank seperti Lehman Brothers bisa dikurangi. Maka itu, BI mengingatkan beratnya syarat untuk menjadi investment bank."Terkait kasus di Amerika itu kan investment bank pada intinya. Bagaimana kita bisa memitigasi (mengurangi) risiko dimana saja baik di komersial bank, investment bank yang penting bagaimana kita bisa memitigasinya," katanya.
oleh : zulfikar
Bisnis bank komersial atua bank umum dengan investment bank (bank investasi) saat ini cenderung saling menempel. Bank Indonesia (BI) mengingatkan investment bank dan bank umum tetap memiliki tembok yang terpisah (chinesse wall)."Investment bank yang kita kenal itu itu Danareksa, Trimegah yang kayak gitu lah. Temannya investment bank itu ada namanya komersial bank. Bank umum gak boleh main saham jadi ada Chinesse Wall yang memisahkan dua bidang ini. Jadi gak boleh menyeberang. Nah ke depan kita gak tahu perkembangannya seperti apa," kata Deputi Gubernur BI Muliaman Hadad di Jakarta, Jumat malam (27/9/2008)."Saat ini kecenderungan mereka semakin nempel oleh karena itu kemungkinan saling nempel ini menuntut modal dan kemampuan manajemen risiko semakin besar jadi kalau keduanya bersatu menjadi universal bank. Saat ini kecenderungan lebih banyak investment bank," lanjut Muliaman.Diakui Muliaman, BI kini akan terus berusaha agar risiko di pasar finansial AS yang dipicu ambruknya investment bank seperti Lehman Brothers bisa dikurangi. Maka itu, BI mengingatkan beratnya syarat untuk menjadi investment bank."Terkait kasus di Amerika itu kan investment bank pada intinya. Bagaimana kita bisa memitigasi (mengurangi) risiko dimana saja baik di komersial bank, investment bank yang penting bagaimana kita bisa memitigasinya," katanya.
Muliaman menjelaskan, kalau bank ingin menjalankan fungsinya sebagai investment bank maka syaratnya sangat berat terutama modalnya yang sangat besar. Modal yang besar itu sangat penting karena modal itu kan tujuannya mengabsorb risiko.Kedua, yang tidak kalah pentingnya adalah kemampuan mengelola risiko karena bisnis seperti ini sangat sarat dengan risiko. "Kemampuan sarat risiko itu yang harus di-review oleh kita apakah memang ada orangnya, SDM cukup, kontrolnya jalan dan sebagainya saya kira belum sampai ke situ. Tapi kaluapun ada, 2 hal itu yang akan kita tekankan modal harus besar dan manajemen risiko harus canggih," katanya

0 Comments:
Post a Comment