-->

Senin, 02 Juni 2008

Produksi Minyak Untuk RAPBN 2009 Sebesar 950 ribu bph

Produksi Minyak Untuk RAPBN 2009 Sebesar 950 ribu bph
oleh : zulfikar
Pemerintah mengusulkan tingkat lifting dan produksi minyak untuk RAPBN 2009 sebesar 950 ribu barel per hari (bph), atau naik 23 ribu bph dari 2008 yang sebanyak 927 bph.Hal tersebut disampaikan Kepala BP Migas R Priyono dalam rapat dengar pendapat dengan Komisi VII DPR di Gedung MPR/DPR, Jakarta, Senin (2/6/2008) malam.Menurutnya, peningkatan produksi memang tidak banyak karena penurunan produksi secara alamiah yang mencapai 10% dan tambahan produksi yang belum optimal."Peningkatan ini tidak signifikan karena lapangannya nggak besar. Kecuali dari Exxon yang baru 2010 bisa banyak. Jadi tambahannya jadi cuma 20-30 ribu barel/hari. Dari jumlah itu, kita prediksi rata-rata produksi 2009 sebesar 950,1 barel/hari," katanya.Penurunan produksi secara alamiah bisa terlihat dari produksi pada Januari yang diperkirakan sebanyak 963 ribu bph, namun menurun hingga Desember tinggal 879 ribu bph


Sementara tambahan produksi baru didapat dari beberapa lapangan, yaitu:

Mobile Cepu Ltd sebesar 20 rib bph
CPI (Duri Area 11) sebesar 2,8 ribu bph
JOB PT Bumi Siak Pusako sebesar 0,9 ribu bph
Medco Energy sebesar 0,2 ribu bph
JPB Hess Jambi Merang sebesar 0,4 ribu bph
JOB PPEJ ( SUkowati) 5,0 ribu bph

Lifting dan Produksi

Mulai tahun 2009, pemerintah akan menggunakan satu istilah untuk perhitungan produksi dan lifting. Selama ini produksi selalu lebih banyak 50 ribu bph karena merupakan swap antara ConocoPhilips dan Chevron.

"Perbedaan pemahaman lifting dan produksi tidak ada lagi. Produksi sama dengan lifting. Kita harapkan bulan ini swap bisa terselesaikan. Jadi own use 50 ribu bph bisa masuk lifting," katanya.

Harga Minyak Untuk RAPBN 2009 Diusulkan $ 90- $110

Asumsi harga minyak Indonesia atau Indonesia Crude Price (ICP) untuk RAPBN 2009 diusulkan dalam kisaran US$ 90-110 per barel.Padahal ICP secara rata-rata untuk sepanjang tahun 2008 sudah cukup tinggi. ICP pada Januari 2008 tercatat sebesar US$ 92 per barel, Februari US$ 94 per barel, Maret US$ 103 per barel, April US$ 109 per barel, dan Mei mencapai US$ 124 per barel.Hal tersebut dijelaskan Dirjen Migas Luluk Sumiarso dalam rapat dengar pendapat dengan Komisi VII, Gedung MPR/DPR, Jakarta, Senin (2/6/2008) malam.Kalau melihat kelaziman sejak 2003, meski pada pertengahan tahun harga tinggi, pada akhir tahun seharusnya harga minyak turun. Hanya saja pada 2007 nggak mau turun," kata Luluk.
Sementara Gubernur OPEC untuk Indonesia Maizar Rahman menjelaskan, kisaran US$ 90-110 bisa saja berubah beberapa bulan kedepan.Berdasarkan hasil survei suatu instansi internasional, harga minyak tahun 2009 diperkirakan bergerak di kisaran US$ 80-130 per barel. Indonesia memilih US$ 90 sebagai harga bawah karena melihat banyak negara penghasil minyak menggunakan asumsi tersebut."Jadi kalau negara ini melihat harga minyak akan turun, dia akan potong produksinya sehingga suplai akan ketat lagi," jelas Maizar.Ia juga menegaskan, faktor-faktor yang berpengaruh pada harga minyak tahun depan akan berbeda dengan tahun ini. Jika saat ini aksi spekulan diikuti ketatnya supply-demand menjadi sangat dominan, maka tahun depan supply demand akan lebih longgar.Mengendurnya tegangan antara supply dan demand disebabkan meningkatnya kapasitas produksi sebagai hasil eksplorasi yang dilakukan di beberapa negara."Sehingga permintaan minyak 1,2 juta bph bisa dipenuhi sendiri dari peningkatan produksi negara non OPEC dan produksi kondensat negara OPEC. OPEC sendiri akan menaikan kapasitas produksi sebesar 1 juta bph dari 3 juta bph menjadi 4 juta bph," jelasnya.Sementara dari sisi demand, permintaan minyak diperkirakan akan menurun seiring melambatnya ekonomi dunia. Pertumbuhan ekonomi dunia diprediksi akan turun 1% dari 4,9% pada tahun ini menjadi 3,9%

0 Comments: