BI Rate Diperkirakan Akan naik 25-50 bps
oleh : zulfikar
Ekonom dari Standard Chartered Bank Fauzi Ihzan memperkirakan Bank Indonesia (BI) pada rapat Dewan Gubernur (RDG) mendatang (5 Juni) diperkirakan akan menaikkan suku bunga acuannya (BI rate) berkisar 25 hingga 50 basis poin."Perkiraan kita bulan ini BI rate bisa naik 25-50 basis poin, karena tingginya inflasi pada bulan lalu," kata Fauzi, di sela-sela acara peresmian Menara Standard Chartered di Jakarta, Selasa.Fauzi juga mengungkapkan bahwa kenaikan BI rate ini bukan untuk meredam tekanan inflasi, tetapi hanya meredam dari sisi ekspektasi inflasi.Menurut dia, inflasi yang terjadi sekarang ini lebih disebabkan inflasi global yang dipicu oleh kenaikan harga pangan dan energi."Inflasi sekarang ini disebabkan karena energi dan pangan, yang sebetulnya tidak bisa diredam Bank sentral mana pun. Sehingga kenaikan BI rate 25 basis poin atau lebih hanya akan meredam ekspektasi inflasi 6 bulan ke depan jadi bukan untuk menurunkan inflasi," jelasnya.Fauzi juga menegaskan, jika kenaikan BI rate hingga 100 basis poin tidak akan terlalu berdampak pada sektor riil, karena berdasarkan pengalaman sebelumnya BI rate yang mencapai 16 persen."Berdasarkan pengalaman sebelumnya BI Rate bisa mencapai 15-16 persen, namun kenyataanya justru sektor perbankan masih bisa berjalan. Memang dampaknya negatif ada, tetapi tidak akan memukul perekonomian Indonesia," jelasnya.
oleh : zulfikar
Ekonom dari Standard Chartered Bank Fauzi Ihzan memperkirakan Bank Indonesia (BI) pada rapat Dewan Gubernur (RDG) mendatang (5 Juni) diperkirakan akan menaikkan suku bunga acuannya (BI rate) berkisar 25 hingga 50 basis poin."Perkiraan kita bulan ini BI rate bisa naik 25-50 basis poin, karena tingginya inflasi pada bulan lalu," kata Fauzi, di sela-sela acara peresmian Menara Standard Chartered di Jakarta, Selasa.Fauzi juga mengungkapkan bahwa kenaikan BI rate ini bukan untuk meredam tekanan inflasi, tetapi hanya meredam dari sisi ekspektasi inflasi.Menurut dia, inflasi yang terjadi sekarang ini lebih disebabkan inflasi global yang dipicu oleh kenaikan harga pangan dan energi."Inflasi sekarang ini disebabkan karena energi dan pangan, yang sebetulnya tidak bisa diredam Bank sentral mana pun. Sehingga kenaikan BI rate 25 basis poin atau lebih hanya akan meredam ekspektasi inflasi 6 bulan ke depan jadi bukan untuk menurunkan inflasi," jelasnya.Fauzi juga menegaskan, jika kenaikan BI rate hingga 100 basis poin tidak akan terlalu berdampak pada sektor riil, karena berdasarkan pengalaman sebelumnya BI rate yang mencapai 16 persen."Berdasarkan pengalaman sebelumnya BI Rate bisa mencapai 15-16 persen, namun kenyataanya justru sektor perbankan masih bisa berjalan. Memang dampaknya negatif ada, tetapi tidak akan memukul perekonomian Indonesia," jelasnya.
Fauzi justru mengingatkan dan perlu mewaspadai lonjakan harga minyak dunia yang berpotensi tembus mencapai 150 dolar AS per barel, inflasi global, resesi AS, dan pertumbuhan ekonomi yang melambat. "Faktor ini serius dibandingkan dengan kenaikan BI rate," tambah Fauzi.
Bank Indonesia Memberikan Sinyal Kenaikan BI Rate
Bank Indonesia (BI) memberikan sinyal untuk menaikkan suku bunga acuan atau BI Rate dalam rapat dewan gubernur (RDG) pada 5 Juni 2008. Berapa kenaikannya, BI masih merahasiakannya.
"Data yang ada menunjukkan ekspektasi inflasi masih cukup tinggi sehingga kita perlu menjaganya. Kita memang harus membuat suatu keputusan yang memberikan sinyal bahwa BI care dan peduli agar tekanan inflasi segera berkurang," kata Deputi Gubernur Senior BI, Miranda Goeltom.
Hal itu diungkapkan Miranda disela-sela rapat kerja dengan Komisi XI DPR, di gedung DPR/MPR, Senayan, Jakarta, Selasa (3/6/2008).
Miranda mengaku, BI akan memberikan respons yang positif terhadap tingginya laju inflasi tahunan (YOY) yang mencapai 10,35% pada Mei 2008 dan bulanan 1,4%.
"Kita akan lihat kalau tekanan inflasi ke depan ekspektasinya terus meningkat kita harus melakukan respons. Tapi berapa besar responsnya itu belum bisa saya katakan," kata Miranda

0 Comments:
Post a Comment