-->

Rabu, 28 Mei 2008

Pembentukan BNI Syariah Akan Rampung Tahun Ini

Pembentukan BNI Syariah Akan Rampung Tahun Ini
oleh : zulfikar
Pembentukan BNI Syariah yang akan dispin off melibatkan Islamic Corporation for Development of Private Sector (ICD) bersama PT Bank Negara Indonesia Tbk (BNI). Kedua investor itu akan mengajak anggota konsorsium dari Timur Tengah menyetorkan modal US$ 500 juta. Chief Executive Officer (CEO) ICD Khaled M Al Aboodi mengatakan, pihaknya telah meminta izin ke Bank Indonesia (BI) dan Bapepam-LK, terkait pembentukan perusahaan patungan tersebut.“Harapan kami sebelum akhir tahun penggabungan usaha ini bisa terlaksana. Sekarang tinggal menunggu persetujuan dari BI dan Bapepam LK,” kata dia di sela acara Indonesian Regional Investment Forum (IRIF) di Jakarta, Rabu (27/5).


Dia menyebutkan, ICD tidak akan menyetorkan modal secara langsung sebesar US$ 500 juta. Setoran modal akan diberikan sesuai nilai proyek yang kelak dibiayai.

Di tempat terpisah, Dirut BNI Gatot M Suwondo memaparkan, jumlah pemegang saham BNI Syariah bertambah. Pasalnya, banyak investor Timur Tengah yang tertarik untuk turut serta membentuk bank umum syariah tersebut. “Ada banyak investor yang tertarik. Dalam waktu dekat kami akan menggelar pertemuan,” kata Gatot.

Menurut dia, kehadiran investor-investor baru itu berpeluang menambah modal usaha BNI Syariah. Sejauh ini, BNI telah memperoleh tambahan tawaran modal menjadi US$ 1 miliar, meningkat dari komitmen sebelumnya US$ 350 juta. “Itu dari Investor Timur Tengah,” kata Gatot.

Dalam pertemuan tersebut, masing-masing investor akan membicarakan pembagian porsi saham. "BNI masih pada pendirian ingin menjadi pemegang saham mayoritas,” kata dia.

Hal senada juga disampaikan Khaled. Menurut dia, porsi kepemilikan saham masing-masing investor masih menunggu studi kelayakan. Sejak Januari 2008, ICD telah menunjuk konsultan untuk menilai kelayakankerja sama tersebut. Dia menegaskan, dalam waktu dekat ini, hasil penilaian dari konsultan tersebut sudah bisa diketahui. “Yang pasti, penggabungan usaha ini akan membentuk sebuah bank syariah terbesar di Indonesia,” ucapnya.

Sebelumnya, International Finance Corporation (IFC) juga tertarik berinvestasi saham perbankan BUMN seperti PT Bank Negara Indonesia Tbk (BNI). “Kami sudah menyampaikan keinginan itu pada pemerintah. Kalau Kementerian BUMN melanjutkan rencananya untuk partisipasi pihak swasta dalam kepemilikan saham perbankan BUMN, kami sangat berminat terhadap BNI,” jelas Country Manager IFC Adam Sack di sela acara IRIF, di Jakarta, Senin (26/5).

Proyek Pembiayaan

Khaled mengatakan, beberapa proyek pembiayaan telah disiapkan ICD setelah BNI Syariah rampung terbentuk. Proyek tersebut terdiri atas proyek infrastruktur jalan, telekomunikasi, dan real estate.
“Kami akan mendukung proyek-proyek sumber daya alam dan infrastruktur. Tapi karena ini bank syariah, setoran modal tidak diberikan secara tunai, tapi untuk membiayai pembelian aset,” kata dia.

Dia menambahkan, akibat kenaikan harga minyak, negara-negara Timur Tengah mengalami surplus hingga US$ 700 miliar. Likuiditas berlebih tersebut membuat para investor dari Timteng leluasa menanamkan modalnya untuk proyek manapun di Indonesia.

Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) Siti Ch Fadjrijah mengatakan, pekan ini pihaknya kembali bertemu dengan ICD untuk membahas langkah lanjutan dari pembentukan BNI Syariah. Pada prinsipnya, bank sentral menyetujui rencana tersebut guna meningkatkan peran perbankan syariah di Tanah Air.

“Malahan ada beberapa investor Timur Tengah lagi yang mau masuk, bukan hanya ICD. Kami menyambut baik, karena mereka kankelebihan likuiditas,” kata dia.

0 Comments: