Negara Asia Ubah Strategi Mata Uang Untuk Antisipasi Inflasi
oleh : zulfikar
Negara-negara eksportir di Asia tengah mengubah strategi untuk tidak lagi membiarkan mata uang mereka melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) menyusul kesulitan-kesulitan yang dihadapi kawasan Asia saat ini.Sejumlah bank sentral, seperti di Indonesia, Filipina, Taiwan, dan Korea Selatan (Korsel), Selasa (27/5), dilaporkan mulai ramai-ramai menjual dolar untuk memperkuat mata uang mereka dalam memerangi inflasi.“Kebijakan memperkuat mata uang yang diambil sejumlah bank sentral pada Selasa lalu merupakan perubahan dalam kebijakan,” jelas laporan Stratfor, lembaga intelijen swasta yang berbasis di AS, Rabu (28/5), seperti dikutip AFP.Situasi saat ini, lanjut lembaga think-tank itu, memicu kekhawatiran bakal berulangnya krisis keuangan Asia 1997/1998, saat sejumlah mata uang di kawasan Asia terpuruk dan ekonomi negara-negara di kawasan terjerumus dalam turbulensi.“Meski peristiwa Selasa itu bukan sinyal dimulainya krisis baru, hal itu menunjukkan bahwa negara-negara di Asia Timur telah mencapai ambang batas tertinggi. Mereka tidak kuat lagi bertahan dengan lonjakan harga-harga komoditas,” tegas laporan itu.
oleh : zulfikar
Negara-negara eksportir di Asia tengah mengubah strategi untuk tidak lagi membiarkan mata uang mereka melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) menyusul kesulitan-kesulitan yang dihadapi kawasan Asia saat ini.Sejumlah bank sentral, seperti di Indonesia, Filipina, Taiwan, dan Korea Selatan (Korsel), Selasa (27/5), dilaporkan mulai ramai-ramai menjual dolar untuk memperkuat mata uang mereka dalam memerangi inflasi.“Kebijakan memperkuat mata uang yang diambil sejumlah bank sentral pada Selasa lalu merupakan perubahan dalam kebijakan,” jelas laporan Stratfor, lembaga intelijen swasta yang berbasis di AS, Rabu (28/5), seperti dikutip AFP.Situasi saat ini, lanjut lembaga think-tank itu, memicu kekhawatiran bakal berulangnya krisis keuangan Asia 1997/1998, saat sejumlah mata uang di kawasan Asia terpuruk dan ekonomi negara-negara di kawasan terjerumus dalam turbulensi.“Meski peristiwa Selasa itu bukan sinyal dimulainya krisis baru, hal itu menunjukkan bahwa negara-negara di Asia Timur telah mencapai ambang batas tertinggi. Mereka tidak kuat lagi bertahan dengan lonjakan harga-harga komoditas,” tegas laporan itu.
Lembaga itu juga memperingatkan, kendati Indonesia, Filipina, Taiwan, dan Korsel merupakan negara-negara dengan ekonomi menengah ke bawah di Asia Timur, keputusan-keputusan yang diambil bank sentral mereka adalah hal penting.
Dengan menempuh kebijakan untuk memperkuat mata uang, negara-negara di Asia sedang berusaha membuat impor lebih murah, sehingga dapat mengendalikan efek-efek penyebab inflasi yang disebabkan oleh melonjaknya harga minyak dan komoditas.
Biasanya, negara-negara Asia sengaja melemahkan mata uang mereka untuk menjaga produk-produk mereka tetap murah sehingga memicu tingginya permintaan dari pasar asing. Langkah itu sangat membantu negara-negara eksportir.
Kendati demikian, Stratfor mengingatkan, sistem ini bisa mulus berjalan saat dolar kuat dan harga-harga material, seperti minyak, suplai bangunan, dan makanan, murah.
Tetapi, hal itu sudah tidak berlaku lagi karena harga minyak telah meroket menjadi sekitar US$ 130 per barel, harga pangan melonjak, dan permintaan atas material mentah tinggi. Semua itu memukul mayoritas negara eksportir di kawasan.
Nestapa Riil
Stratfor melanjutkan, ‘nestapa riil’ akibat lonjakan harga-harga komoditas tidak hanya dirasakan oleh negara-negara yang memperkuat mata uangnya pada Selasa lalu. Nestapa itu juga dirasakan Republik Rakyat Tiongkok (RRT) dan Thailand, dua negara yang paling bergantung pada sektor manufaktur.
Di RRT, kenaikan harga material dan energi telah merontokkan margin keuntungan yang sudah tipis. Selain itu, lonjakan harga pangan dengan cepat bisa memicu kerusuhan sosial di negara berpenduduk terbesar di dunia itu.
RRT membiarkan mata uang yuan menguat secara bertahap versus dolar. Tetapi, menurut Stratfor, jika penguatan itu dilakukan secara tiba-tiba, hal itu berisiko membuat sejumlah pabrik, yang sangat bergantung kepada ekspor, gulung tikar. Akibatnya, jumlah pengangguran bakal melonjak.
Langkah itu juga berisiko mengurangi porsi cadangan devisa RRT, yang mencapai US$ 1,7 triliun, dalam jumlah signifikan.
“Pada akhirnya, aksi-aksi ini, dan tindakan serupa yang diambil sejumlah bank sentral Selasa lalu, tidak mengubah kenyataan bahwa RRT, sama dengan negara-negara eksportir lainnya, menghadapi masa-masa sulit ke depan,” imbuh Stratfor

0 Comments:
Post a Comment