-->

Jumat, 23 Mei 2008

BI Harus Segera Antisipasi Kenaikan Inflasi

BI Harus Segera Antisipasi Kenaikan Inflasi
oleh : zulfikar
Direktur Perencanaan Makro Bappenas, Bambang Prijambodo mengingatkan Bank Indonesia (BI) agar jangan sampai terlambat mengantisipasi kenaikan laju inflasi akibat kenaikan harga BBM rata-rata sekitar 28,7% karena hal itu akan mempengaruhi kepercayaan pasar terhadap rupiah.“Potensi inflasi bisa mencapai 11-12%. Itu perlu segera diantisipasi,” kata Bambang Prijambodo di Jakarta, Jumat (23/5).Sekadar diketahui, Bappenas memperkirakan inflasi akhir tahun 2008 mencapai 11%-11,5%, sedangkan Badan Pusat Statistik menyebut angka melampaui 10%, dan BI memprediksi sekitar 12%. Sementara saat ini laju inflasi year on year (yoy) April mencapai 8,96%.
Meskipun demikian, Bambang mengharapkan BI tidak terlalu panik dan langsung menaikkan BI Rate secara drastis mencapai 50 basis poin atau lebih, karena hal itu justru akan memicu terjadinya ekspektasi inflasi.“Suku bunga diharapkan menuntun pasar agar ekspektasi inflasi tetap berada dalam kondisi yang terjaga,” katanya.
Dia menambahkan, inflasi yang cenderung meningkat tersebut dipengaruhi oleh faktor fundamental dari sisi pasokan, yaitu kenaikan biaya produksi dan harga komoditas bahan baku.Kenaikan suku bunga bisa kelipatan 25 basis poin, namun syaratnya adalah laju inflasi yang sangat tinggi dan kepercayaan terhadap rupiah yang anjlok,” katanya.



Naikkan BI Rate
Berkaitan dengan ekspektasi laju inflasi akhir tahun yang cukup tinggi, pengamat ekonomi Tony Prasetiantono menghimbau BI agar menaikkan suku bunga acuan (BI Rate).
“Tujuannya agar suku bunga riil yang sudah negatif tidak terlalu besar,” katanya Prasetiantono di Jakarta, Jumat (23/5).
Suku bunga riil merupakan selisih antara suku bunga simpanan dengan inflasi atau kenaikan rata-rata harga barang-barang konsumsi.
Sebab, BI Rate menjadi acuan bagi perbankan mematok suku bunga. Misalnya, menyusul naiknya BI Rate, suku bunga penjaminan LPS, yang menjadi acuan perbankan menentukan suku bunga tabungan, deposito atau giro juga mengacu pada BI Rate baru saja dinaikkan menjadi 8,25% atau minus 0,71%.
Selain menaikkan BI Rate, Prasetiantono juga meminta Departemen Keuangan untuk menurunkan tarif bea masuk (BM) produk-produk primer yang masuk ke Indonesia.
“(Penurunan BM) ini akan mengkompensasi imported inflation, seperti gandum dan kedelai,” katanya. Imported inflation adalah inflasi yang dipicu impor barang-barang komoditas yang harganya telah mengalami kenaikan di luar negeri. (antara)

0 Comments: