-->

Jumat, 22 Februari 2008

PT. Pertamina harus genjot produksi untuk mengatasi impor

PT. Pertamina harus genjot produksi untuk mengatasi impor
oleh : zulfikar
Untuk mengurangi ketergantungan impor minyak mentah dan BBM, maka PT. Pertamina harus menggenjot produksi kilang minyak agar kapasitasnya lebih dari 1,5 juta barel per hari (bph). Pengurangan impor tersebut diharapkan akan menghemat anggaran apalagi harga minyak mentah saat ini kembali mendekati level US$ 100 per barel. Seperti yang diutarakan oleh Kurtubi Direktur Centre for Petroleum and Energy Economic Studies (CPEES)



Sebelumnya, Direktur Pengolahan Pertamina Suroso Atmomartoyo mengatakan, pihaknya akan mengurangi impor minyak mentah (crude) sebesar 1,5 juta barel untuk kebutuhan April mendatang. Pengurangan ini sebagai dampak harga minyak yang sempat menembus level US$ 101 per barel.



“Untuk kebutuhan April, kami kurangi dua kargo. Sedangkan kebutuhan Mei, baru akan diputuskan 10 Maret nanti,” ujar Suroso kepada wartawan usai shalat Jumat di Jakarta.



Kurtubi menegaskan, Pertamina harus siap menghadapi berbagai risiko terkait pengurangan impor minyak mentah. “Apabila pengurangan itu menyebabkan kelangkaan pasokan BBM, Pertamina bisa dimarahin pemerintah,” ujar dia.



Pertamina saat ini bergantung pada impor minyak mentah dan produk BBM karena kurangnya produksi dan keterbatasan kemampuan kilang. Tahun lalu produksi minyak mentah Indonesia hanya 910.000 barel. Dari jumlah itu, sekitar 300.000 barel diekspor, sedangkan kapasitas kilang dalam negeri bila beroperasi penuh 1 juta barel.



Tahun 2007, realisasi impor Pertamina 109,5 juta barel, naik 7% dibandingkan dengan tahun 2006 yang besarnya 102,9 juta barel. Pertamina tidak bersedia menyebutkan perkiraan kebutuhan impor tahun ini.



Sekitar 40% pasokan (feedstock) kilang-kilang dalam negeri berasal dari impor. Indonesia mengimpor minyak antara lain dari Arab Saudi, Libya, Sudan, Brunei Darussalam, Malaysia, dan Vietnam.



Manajemen Pertamina, menurut Kurtubi, sempat menargetkan kapasitas kilang bisa ditingkatkan sampai 20% pada 2012. Kilang Cilacap, misalnya, ditingkatkan dari 348.000 bph menjadi 410.000 bph. Kilang Balikpapan dari 260.000 bph menjadi 280.000 bph dan Kilang Balongan Indramayu dari 125.000 bph menjadi 250.000 bph. “Peningkatan kapasitas produksi kilang harus dipercepat, tidak perlu menunggu waktu lama,” katanya.





Dirut Pertamina Ari Hernanto Soemarno mengungkapkan, kebutuhan mata uang dolar AS untuk membeli minyak dan produk BBM meningkat.

Jumlah impor minyak dan produk BBM tidak berubah, namun harga naik. “Waktu harga US$ 70, kebutuhan valas Pertamina hanya US$ 30-40 juta. Namun begitu harga naik menjadi US$ 100, kebutuhan dollar membengkak menjadi US$ 60-70 juta per hari,” katanya baru-baru ini.



Harga minyak mentah di pasar dunia kini masih di kisaran US$ 98-99 per barel. Adapun harga produk BBM, tergantung dari jenisnya, bisa lebih tinggi US$ 5-10 dibanding harga minyak.



Di pasar internasional, pada perdagangan kemarin, di New York Mercantile Exchange, harga minyak mentah ditutup pada level US$ 98,80 per barel.



Suroso mengungkapkan, kebutuhan impor minyak mentah Pertamina per hari berkisar 200- 300 ribu barel atau sekitar 6-9 juta barel per bulan.

Pengurangan impor minyak mentah ini, lanjut dia, berdampak terhadap penurunan produksi kilang pengolahan BBM Pertamina berkisar 10-15%. “Beberapa kilang pengolahan Pertamina yang menurun kapasitas produksinya antara lain kilang Balikpapan, kilang Dumai, dan kilang Cilacap,” katanya.



Kepala Divisi BBM ritel Pertamina Djaelani Soetomo menambahkan, untuk memenuhi kebutuhan konsumsi BBM Maret mendatang, Pertamina berencana mengimpor 2,5 juta barel premium dan 600 ribu barel solar.


Sementara itu, untuk impor minyak bakar bulan Maret, lanjut dia, masih menunggu pengajuan kebutuhan PLN. “Tapi kemungkinan impornya akan meningkat dibandingkan kebutuhan Februari ini,” ujarnya. Untuk kebutuhan Februari, Pertamina mengimpor 370 ribu barel minyak bakar.



Deputi Direktur Pemasaran Pertamina Hanung Budya memperkirakan, impor solar tahun ini akan turun dari 5,6 juta barel per bulan menjadi sekitar 4,5 juta barel per bulan. Sementara itu, impor premium akan turun dari biasanya 3,2 juta barel menjadi 2,4 sampai 2,6 juta barel per bulan.



Dia menegaskan, pengurangan impor itu didilakukan seiring dengan program pengalihan pemakaian minyak tanah ke gas elpiji. “Harapannya program konversi bisa berjalan sukses,” ujarnya.



Kantor berita Reuters di Singapura, belum lama ini, menyatakan bahwa Pertamina akan memangkas volume impor minyak mentah berkadar belerang rendah dalam kuartal I 2008 hingga setengahnya. Pembelian hanya 2,75 juta barel per bulan. Pada periode tersebut Pertamina akan membeli 950.000 barel per bulan minyak mentah Azeri Light, 600.000 barel minyak Champion Brunei, 600.000 barel Seria Light Brunei serta 600.000 barel juga minyak Nile Blend Sudan.



Selama tahun ini, perusahaan migas milik negara ini telah menandatangani kontrak pembelian 5 juta barel per bulan minyak mentah jenis ringan.



Sementara itu, total minyak mentah yang didapat dari dalam negeri mencapai 194,920 juta barel. Hal ini membuat total minyak mentah yang diolah Pertamina sepanjang 2007 mencapai 312,070 juta barel.



Pengadaan impor minyak ini dilakukan dengan sistem tender yang diikuti salah satunya oleh Petral, anak usaha Pertamina yang berbasis di Singapura.



Ari Soemarno sebelumnya mengatakan, basis Petral di Singapura ini memberikan beberapa keuntungan. Adapun keuntungan yang diperoleh perusahaan migas pelat merah itu adalah akses mendapatkan minyak yang lebih mudah karena Singapura merupakan pusat perdagangan minyak. “Tapi meski Petral anak usaha kami, kadang dia bisa menang, bisa juga kalah. Tetap bergantung harga,” katanya


0 Comments: