Bank Sentral China Perintahkan Perbankan Untuk Meningkatkan Cadagan Devisa
Oleh : Zulfikar
Bank sentral Republik Rakyat China atau People’s Bank of China (PBoC), Sabtu (8/12), memerintahkan bank-bank setempat untuk meningkatkan cadangan devisa menjadi 14,5% dari 13,5%, atau naik 1 poin persentase, mulai 25 Desember mendatang. Upaya itu merupakan salah satu cara untuk mencegah ekonomi negara itu dari kondisi terlalu panas (overheating) serta menghindari NPL yang membengkak akibat Inflasi.
Oleh : Zulfikar
Bank sentral Republik Rakyat China atau People’s Bank of China (PBoC), Sabtu (8/12), memerintahkan bank-bank setempat untuk meningkatkan cadangan devisa menjadi 14,5% dari 13,5%, atau naik 1 poin persentase, mulai 25 Desember mendatang. Upaya itu merupakan salah satu cara untuk mencegah ekonomi negara itu dari kondisi terlalu panas (overheating) serta menghindari NPL yang membengkak akibat Inflasi.
“People’s Bank of China menempuh langkah itu guna memperkuat manajemen likuiditas dalam sistem perbankan dan mengikis pertumbuhan kredit yang eksesif,” jelas bank sentral dalam pernyataannya di situs bank itu seperti dilansir AFP.
Kenaikan rasio cadangan devisa itu adalah yang tertinggi sejak 1987, dan yang ke-10 sepanjang tahun ini.
Kewajiban yang dibebankan PBoC kepada sejumlah bank lokal itu dikeluarkan menyusul kuatnya pertumbuhan ekonomi negara itu, ditambah data inflasi, dan janji pemerintah untuk mengadopsi kebijakan-kebijakan fiskal yang ketat.
“Kenaikan (rasio cadangan devisa) yang lebih besar dari biasanya itu merefleksikan urgensi kecemasan pemerintah akan inflasi. Langkah itu akan membantu memperkuat kredibilitas bank sentral dan menjadi pembuktian tentang ekspektasi inflasi,” jelas Liang Hong, ekonom Goldman Sachs Group Inc, Hong Kong, seperti dilansir Bloomberg News.
PBoC sepanjang tahun ini mewajibkan peningkatan cadangan devisa, ditambah rangkaian kenaikan suku bunga, sebagai upaya untuk memperlambat penguatan di pasar saham dan mencegah ekonomi dari kepanasan. Peningkatan rasio cadangan devisa akan mengurangi jumlah uang beredar dalam kegiatan perekonomian.
Keputusan PBoC itu akan membuat dana sekitar 380 miliar yuan (US$ 51 miliar) tersingkir dari sistem perbankan. Hingga akhir Oktober, deposito dengan mata uang lokal mencapai 37,9 triliun yuan.
Langkah bank sentral itu diambil menjelang kedatangan Menteri Keuangan Amerika Serikat Henry Paulson ke Beijing pekan depan. Paulson pada 5 Desember lalu mengatakan, Pemerintah RRT harus membiarkan yuan berapresiasi di level lebih cepat demi mengurangi surplus perdagangan negara itu.
Risiko Inflasi
Para pemimpin dan pejabat Tiongkok dalam konferensi kinerja perekonomian tahunan pada 5 Desember lalu menyoroti terlalu panasnya ekonomi negara itu dan inflasi sebagai risiko utama 2008. “Kenaikan ini sesuai dengan pengetatan kebijakan moneter setelah konferensi kinerja perekonomian pusat yang bertujuan memperkuat manajemen likuiditas,” jelas bank sentral dalam pernyataannya.
RRT terus memperingatkan soal bahaya inflasi, yang tahun ini diprediksi 4,6%, level tertinggi dalam 10 tahun. Level inflasi itu dipercaya akan menggerus kekuatan daya beli masyarakat pada masa yang akan datang. Sementara itu, ekonomi negara itu diperkirakan tumbuh 11,5% pada 2007, pertumbuhan ekonomi dua digitselama lima tahun berturut-turut

0 Comments:
Post a Comment