-->

Jumat, 26 Desember 2008

Obligasi 2009 Akan Marak Jika BI Rate Turun

Obligasi 2009 Akan Marak Jika BI Rate Turun
oleh : zulfikar
Pada 2009 bisnis obligasi kembali akan marak setelah Bank Indonesia mengisyaratkan adanya penurunan suku bunga acuannya (BI Rate). Namun, alternatif pembiayaan korporasi ini akan bersiang ketat dengan pembiayaan bank dan obligasi yang diterbitkan pemerintah. Saat ini beberapa korporasi sudah mulai menyiapkan langkah untuk menerbitkan obligasi. Beberapa di antaranya ialah PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) yang berrencana menerbitkan obligasi senilai Rp1,5 triliun. Selain itu, PT Bank Tabungan Negara (BTN), dan PT Bank Ekspor Indonesia (BEI). Upaya penerbitan obligasi ini merupakan konsekuensi kebutuhan dana sejumlah korporasi yang utangnya akan jatuh tempo. Selain itu, beberapa korporasi juga mengincar dana melalui obligasi untuk membiayai ekspansi usaha. Langkah ini dilakukan setelah pasar modal tidak lagi menjadi primadona karena mengalami kejatuhan hebat di semester akhir tahun ini. Hal ini dibenarkan Analis Obligasi dari PT Mandiri Sekuritas Handi Yunianto. Menurutnya, beberapa korporasi sudah mengambil ancang-ancang untuk menerbitkan obligasi. Pemicunya ialah proyeksi inflasi yang rendah dan akan mengoreksi besaran BI Rate. Sehingga, obligasi langsung ataupun melalui paket reksa dana obligasi bisa lebih menarik jika dibandingkan dengan deposito yang saat ini memimpin karena bunga yang ditawarkan sangat tinggi. Handi memprediksi tahun depan pasar obligasi membaik. Hal itu disebabkan banyak faktor penunjang seperti suku bunga dan inflasi. Selain itu, langkah pemerintah menurunkan target penerbitan surat utang bisa menjadi faktor tambahan pendukung pertumbuhan obligasi nasional. "Memang tahun ini pasar obligasi tidak terlalu bagus saat yield-nya tinggi dan harganya rendah. Sehingga, nilai perdagangnya untuk obligasi korporasi hanya Rp12,3 triliun dengan obligasi jatuh tempo mencapai Rp13 triliun," jelas Handi.


Namun dengan membaiknya pendukung obligasi seperti inflasi dan suku bunga, ia memprediksi tahun depan pasar obligasi korporasi akan meningkat. Nilai perdagangannya diperkirakan akan mencapai kisaran Rp13 triliun. Sebab, terdapat sekitar Rp17 triliun obligasi yang akan jatuh tempo. Dengan kondisi tersebut, ujar Handi, pasar obligasi akan sedikit bergairah karena akan banyak korporasi yang menerbitkan obligasi untuk pembiayaan kembali (refinancing) utang jatuh temponya. Hal ini juga ditunjang dengan penurunan target penerbitan obligasi pemerintah yakni surat utang negara dari Rp112 triliun menjadi hanya Rp54,7 triliun. Sehingga, pasar obligasi tidak akan jenuh dan masih membuka ruang bagi pasar sekunder. Handi menambahkan, pasar obligasi negara dengan target Rp54,7 triliun tahun depan akan tercapai. Namun, obligasi ini masih bergantung bagaimana BI menjaga stabilitas nilai tukar rupiah. Saat ini outstanding obligasi nasional masih didominasi obligasi negara yakni mencapai Rp700 triliun. Sedangkan, obligasi korporasi hanya Rp75 triliun. Sejumlah pihak yang sangat berkepentingan dengan investasi seperti asuransi, Jamsostek, dan dana pensiun pun mulai kembali melirik investasi obligasi. PT Jamsostek mengaku tertarik dengan obligasi PLN. Bahkan, Jamsostek siap mengambil porsi besar hingga Rp500 miliar. Obligasi lainnya yang dipastikan akan menjadi primadona karena ratingnya yang tinggi ialah obligasi BEI yang rencananya menargetkan perolehan US$100 juta. Dana ini dipakai untuk pembiayaan ekspor menjelang transformasi perseroan menjadi Lembaga Ekspor Indonesia (LPEI). Obligasi BEI ini memiliki status rating tinggi seperti PLN karena dijamin langsung pemerintah.Hal ini dibenarkan Asisten Deputi Bidang Usaha Perbankan Kementerian BUMN Gatot Mardiwasisto. Kepada Media Indonesia ia menyatakan optimistis akan obligasi BEI. Dengan dijamin penuh pemerintah, obligasi ini akan diminati para investor. "Karena obligasinya masuk sovereign rating, yakni dijamin pemerintah," ujarnya

0 Comments: