Indonesia, Malaysia & Thailand Akan Kurangi Ekspor Karet Alam 915.000 Ton
oleh : zulfikar
Indonesia, Malaysia dan Thailand akan mengurangi ekspor karet alamnya sebesar 915.000 ton karet pada tahun 2009.Hal tersebut disampaikan Deputy Secretary General 1 Kementerian Perusahaan Perladangan dan Komoditi Malaysia, Nurmala BT ABD. Rahim dalam konferensi pers hasil sidang ITRC ke 14 yang diselenggarakan 12-13 Desember di Hotel Lido Lake, Bogor, Sabtu (13/12/2008)."Angka ini berkurang sekitar 16 persen dari tahun 2007 dari total ekspor Indonesia, Malaysia dan Thailand sebesar 5,5 juta ton," ujarnya. Data ekspor karet untuk tahun 2008 sendiri belum keluar.Pengurangan tersebut, lanjut Nurmala, berasal 700.000 ton melalui program Agreed Export Tonnage Scheme (AETS) dan 215.000 ton terkait percepatan kebijakan penanaman kembali melalui supply management Scheme (SMS).Pengurangan ekspor ini, imbuh Nurmala, dikarenakan permintaan dunia menurun akibat adanya resesi ekonomi global. Amerika dan Eropa yang merupakan target ekspor utama juga terkena dampak ini sehingga perlu ada pengaturan suplai. Nurmala menambahkan rendahnya harga karet kini telah menyebabkan lebih dari 3 juta petani. "Oleh Sebab itu Gabungan Pengusaha Karet Indonesia (Gapkindo) telah mendesak anggota-anggotanya untuk tidak menjual harga dibawah US$ 1,35/kg. Asosiasi Karet Thailand (TRA) dan Asosiasi Federasi Perdagangan Karet Malaysia (FRTAM) telah melakukan langkah yang sama," jelasnya.
oleh : zulfikar
Indonesia, Malaysia dan Thailand akan mengurangi ekspor karet alamnya sebesar 915.000 ton karet pada tahun 2009.Hal tersebut disampaikan Deputy Secretary General 1 Kementerian Perusahaan Perladangan dan Komoditi Malaysia, Nurmala BT ABD. Rahim dalam konferensi pers hasil sidang ITRC ke 14 yang diselenggarakan 12-13 Desember di Hotel Lido Lake, Bogor, Sabtu (13/12/2008)."Angka ini berkurang sekitar 16 persen dari tahun 2007 dari total ekspor Indonesia, Malaysia dan Thailand sebesar 5,5 juta ton," ujarnya. Data ekspor karet untuk tahun 2008 sendiri belum keluar.Pengurangan tersebut, lanjut Nurmala, berasal 700.000 ton melalui program Agreed Export Tonnage Scheme (AETS) dan 215.000 ton terkait percepatan kebijakan penanaman kembali melalui supply management Scheme (SMS).Pengurangan ekspor ini, imbuh Nurmala, dikarenakan permintaan dunia menurun akibat adanya resesi ekonomi global. Amerika dan Eropa yang merupakan target ekspor utama juga terkena dampak ini sehingga perlu ada pengaturan suplai. Nurmala menambahkan rendahnya harga karet kini telah menyebabkan lebih dari 3 juta petani. "Oleh Sebab itu Gabungan Pengusaha Karet Indonesia (Gapkindo) telah mendesak anggota-anggotanya untuk tidak menjual harga dibawah US$ 1,35/kg. Asosiasi Karet Thailand (TRA) dan Asosiasi Federasi Perdagangan Karet Malaysia (FRTAM) telah melakukan langkah yang sama," jelasnya.
Sementara itu Ketua Gapkindo (Gabungan Pengusaha Karet Indonesia), Suharto Honggokusumo menyatakan untuk mendukung terlaksananya program pengurangan melalui AETS, Gapkindo telah memberikan nomor registrasi kepada semua ekportir. "Karena Gapkindo ditugaskan untuk melaksanakan program yang dibuat ITRC untuk Indonesia," jelasnya.Sedangkan untuk yang bukan anggota Gapkindo, lanjut Suharto, Departemen perdagangan akan mengeluarkan nama eksportir tercatat dan kemudian mereka akan diregister. "Untuk pengawasan berada di tangan Depkeu dan Bea Cukai sebagai pintu masuk ekspor," jelasnya.

0 Comments:
Post a Comment