-->

Kamis, 20 November 2008

Dedicated Fund Untuk Solusi Krisis Valas

Dedicated Fund Untuk Solusi Krisis Valas
oleh : zulfikar
Untuk mengatasi krisis valas yang terjadi menurut Ekonom Senior dan Kepala Hubungan Pemerintahan Standard Chartered, Fauzi Ichsan adalah dengan memakai sistem dedicated fund, dana yang teralokasi untuk kepentingan tertentu, seperti krisis valas ataupun perbankan. Namun, hal ini tergantung dari keberanian Bank Indonesia atau pemerintah Indonesia untuk melakukan program ini. Dengan menggunakan metode pengumpulan dolar dari beberapa negara dan dipinjam oleh Bank Sentral untuk menstabilkan nilai tukar rupiah terhadap dolar. "Duit yang dipinjam harus jelas darimana asalnya. Baru jumlahnya berapa, lalu cara penggunaannya bagaimana," ujarnya. Menurutnya, sumber dana bisa berasal dari beberapa negara kaya di Asia yang mau meminjamkan dana dalam bentuk dolar yang bisa digunakan untuk intervensi bank sentral agar nilai dolar stabil. Namun, lanjutnya, belum ada asosiasi yang memfasilitasi bantuan dana seperti dedicated fund selain IMF. "Semuanya kan member Country, termasuk Indonesia," cetusnya. Padahal, jelasnya, pada masa lalu, Indonesia pernah mengibarkan bendera bermusuhan dengan IMF, jadi untuk meminjam lagi, Indonesia perlu nyali yang besar. "Secara politis Indonesia memang nggak bisa (meminjam kepada IMF). Masak udah marah-marah kita datang lagi (untuk meminjam). Tapi memang sudah terbukti bisa. Pakistan, Hongaria, dan Islandia semua kan pinjam IMF


Di sisi lain, Fauzi menawarkan solusi lain, yaitu dengan meminta bantuan negara-negara Asia yang kaya secara pesonal. "Itu bisa terealisasi kalau anggotanya setuju," ujarnya. Selain dedicated fund, BI juga bisa melakukan metode swap line, yaitu meminta bantuan dana dalam bentuk dolar ke Bank Sentral Amerika dengan jaminan rupiah yang sudah ditentukan kurs pada saat pengembalian dari sekarang. "Itu juga kalau Amerika mau menijamkan," cetusnya. Namun, tegasnya, hal tersebut tak lebih hanya sebuah wacana bila pemerintah Indonesia tidak berani untuk menggebrak langkah untuk memulai usaha dan bisa menanggung resikonya. "Mau atau tidak, ini kan tergantung wacana. Kalau dipraktekkan gimana kita juga nggak tau. Pinjam bisa saja rugi, tapi kan yang penting dolar bisa stabil dulu," pungkasnya

0 Comments: