-->

Kamis, 06 November 2008

BI : Perbankan Harus Waspadai Resiko Kredit

BI : Perbankan Harus Waspadai Resiko Kredit
oleh : zulfikar
Bank Indonesia (BI) meminta perbankan tetap mewaspadai adanya resiko kredit yang muncul, meskipun sejauh ini indikator tersebut masih terjaga seiring menurunnya pertumbuhan kredit di tengah gejolak perekonomian dunia. Gubernur BI Boediono dalam siaran persnya, Kamis (6/11) mengatakan kinerja sektor perbankan masih tetap baik yang ditunjukkan dengan ketahanan indikator utama dalam menghadapi gejolak pasar, seperti rasio kecukupan modal (capital adequacy ratio/CAR), rasio kredit bermasalah (non performing loan/NPL) dan pinjaman dalam negeri. "Pertumbuhan kredit mulai menurun, sementara risiko kredit tetap terjaga meskipun ke depan masih perlu di waspadai," ujarnya. Menurut dia, kondisi likuiditas saat ini mulai melonggar sehingga memberi keleluasaan bagi perbankan dalam menjalankan usahanya. Dalam pemaparannya pada seminar Krisis Ekonomi Global dan Imbasnya Kepada Perekonomian Indonesia, Rabu (5/11) Direktur Penelitian dan Pengaturan Perbankan BI Halim Alamsyah mengatakan risiko likuiditas cenderung menurun dibandingkan dengan dengan tren penurunan sejak akhir 2007. "Namun dalam sebulan terakhir terdapat peningkatan ketahanan likuiditas seiring bertambahnya excess reserves bank," tuturnya


Dia menjelaskan penambahan likuiditas itu bersumber dari dana pihak ketiga (DPK) sebesar Rp73,3 triliun (year on year) sebagai dampak naiknya suku bunga perbankan yang tidak seluruhnya disalurkan ke kredit. Selain itu, lanjutnya, kenaikan ekses likuiditas sekitar Rp44,3 triliun dan cenderung di tempatkan pada instrumen likuid, seperti Fasilitas Bank Indonesia (Fasbi) lewat fine tune kontraksi yang mencapai Rp41,6 triliun

0 Comments: