-->

Sabtu, 27 September 2008

Permintaan Kredit Terus Naik Meskipun Ketatnya Likuiditas

Permintaan Kredit Terus Naik Meskipun Ketatnya Likuiditas
oleh : zulfikar
Berbeda dengan kehendak Bank Indonesia untuk menekan pertumbuhan, permintaan akan kredit justru meningkat. Pasalnya, alternatif pembiayaan baik melalui bursa saham ataupun obligasi semakin tidak kompetitif. Hal ini ditandai dengan semakin sedikitnya emiten yang mencatatkan sahamnya di bursa. Bahkan, rencana sejumlah BUMN untuk melantai di bursa dipastikan akan tertunda. Alhasil, alternatif pembiayaan bagi dunia usaha hanya menyisakan kredit perbankan. Padahal, biaya kredit saat ini semakin besar akibat tingginya suku bunga. Hal ini disebabkan minimnya likuiditas karena kondisi global maupun lokal. Berdasarkan data BI, pertumbuhan kredit hingga pertengahan September sudah mencatatkan angka 36%. Padahal, target pertumbuhan yang dipatok BI di awal tahun hanya 26%. Begitu juga dengan pertumbuhan dana pihak ketiga perbankan yang jauh di bawah pencapaian kredit. Alhasil, dunia perbankan mengalami dilema akibat tingginya permintaan kredit dan minimnya likuiditas. Direktur Penelitian dan Pengaturan Perbankan Bank Indonesia Halim Alamsyah, akhir pekan lalu mengungkapkan adanya peningkatan permintaan kredit bank. Hal ini disebabkan pasar obligasi yang tidak kunjung membaik pascakrisis keuangan di Amerika Serikat. "Korporasi lebih memilih pembiayaan dari perbankan ketimbang menerbitkan obligasi. Karena yield (imbal hasil) obligasi saat ini teramat tinggi sehingga memberatkan korporasi yang ingin menerbitkannya," jelas Halim. Setali tiga uang dengan pasar sekunder, bursa saham juga tidak memberikan alternatif yang baik. Ambruknya sektor keuangan AS yang ditandai kebangkrutan sejumlah raksasa bank investasi bahkan lembaga keuangan non bank, membuat bursa kehilangan gairah. Indeks saham gabungan baik global, regional, maupun lokal terkapar di tempat jika tidak anjlok. Sehingga, beberapa calon emiten baru memutuskan menunda IPO.



Lebih jauh, Halim menuturkan di 2008 khususnya beberapa bulan terakhir, dunia usaha semakin ketergantungan dengan bank sebagai sumber dana. Padahal, perbankan nasional saat ini sudah bisa dibilang kelebihan permintaan. Soalnya, kemampuan likuiditas yang ada sangat terbatas. Hal ini yang membuat perbankan berada dalam kondisi dilematis. Kendati begitu, sebagai regulator BI mempertegas posisinya yakni menekan pertumbuhan kredit. "Apalagi untuk pertumbuhan kredit konsumtif. Kalau bisa jangan 36%, karena kalau 36% berarti bank harus lebih kencang mencari dana. Kalau lebih kencang lagi yang rugi banknya karena mereka harus bayar bunga lebih tinggi," jelas Halim. Gubernur BI Boediono menyatakan, perbankan harus bisa menjaga selisih pertumbuhan kredit dan DPK pada posisi aman. Pasalnya, gap yang terlalu jauh akan membahayakan sektor keuangan secara menyeluruh. Hal sama diungkap Deputi Gubernur BI Muliaman D Hadad dan Siti Chalimah Fadjrijah. Mereka menekankan bahwa pertumbuhan kredit perbankan saat ini sudah terlalu tinggi. Untuk itu, bank khususnya bank dengan likuiditas ketat harus menghentikan persetujuan kredit baru. Hal ini diakui berbagai praktisi di sektor perbankan. Wakil Direktur Utama PT Bank Mandiri Tbk Wayan Agus Mertayasa menyatakan untuk memenuhi komitmen kredit yang ada saja perbankan harus bersaing satu sama lain. Padahal, persaingan ini semakin menambah beban bunga. Apalagi, jika persetujuan kredit baru tetap dilakukan, bisa dipastikan bank akan sangat sulit memeperoleh likuiditas guna memenuhinya. Berdasarkan data BI, hingga Juli 2008, posisi kredit mencapai outstanding Rp 1.159,98 triliun. Angka ini sebagai hasli dari tumbuhnya kredit bank yang mencapai 33% dibandingkan dengan periode sama tahun lalu (year on year). Pencapaian pertumbuhan tersebut merupakan yang tertinggi sejak krisis moneter akhir tahun 90-an

0 Comments: