Berdasarkan data BI Deposito Valas Tumbuh 34 %
oleh : zulfikar
Berdasarkan data Bank Indonesia (BI), komposisi deposito valas kelompok bank umum per Februari 2008 mencapai Rp127,283 triliun atau tumbuh 34% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Direktur Biro Riset InfoBank Eko B Supriyanto mengatakan, peningkatan itu disebabkan rendahnya tingkat suku bunga deposito rupiah. Akibatnya, nasabah memilih menyimpan dananya dalam bentuk valas. Terlebih, saat ini kondisi pasar uang dunia sedang berfluktuasi. ”Ini artinya investor ingin aman dengan membeli deposito kepada bank. Di pihak lain, ini memungkinkan rupiah melemah seperti pengalaman ketika krisis,” kata Eko di Jakarta kemarin. Eko menilai beberapa valas yang paling diminati karena penguatannya adalah dolar Singapura dan dolar AS.
oleh : zulfikar
Berdasarkan data Bank Indonesia (BI), komposisi deposito valas kelompok bank umum per Februari 2008 mencapai Rp127,283 triliun atau tumbuh 34% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Direktur Biro Riset InfoBank Eko B Supriyanto mengatakan, peningkatan itu disebabkan rendahnya tingkat suku bunga deposito rupiah. Akibatnya, nasabah memilih menyimpan dananya dalam bentuk valas. Terlebih, saat ini kondisi pasar uang dunia sedang berfluktuasi. ”Ini artinya investor ingin aman dengan membeli deposito kepada bank. Di pihak lain, ini memungkinkan rupiah melemah seperti pengalaman ketika krisis,” kata Eko di Jakarta kemarin. Eko menilai beberapa valas yang paling diminati karena penguatannya adalah dolar Singapura dan dolar AS.
Sementara itu, praktisi perbankan Paul Sutaryono menilai, meningkatnya deposito dalam bentuk valas merupakan kecermatan bank menangkap nasabah kelas menengah dan atas. Beberapa bank menyediakan produk deposito valas nondolar AS seperti euro, dolar Singapura, yen Jepang, dolar Hong Kong, dolar Australia, dan dolar Kanada.
Produk ini, lanjutnya, lebih menarik dibandingkan menyimpan deposito dalam mata uang dolar AS akibat semakin rendahnya suku bunga The Fed yang akan memengaruhi nilai dolar AS. ”Nasabah sudah pintar memilih produk simpanan yang aman dan menguntungkan. Nasabah memanfaatkan kesempatan dolar AS yang semakin fluktuatif,” paparnya.
Hal senada diungkapkan Presiden Direktur Bank NISP Pramukti Surjaudaja. Menurutnya, kenaikan jumlah simpanan dalam bentuk deposito valas akibat tingginya keuntungan dan suku bunga valas di Indonesia. Di sisi lain, Direktur Penelitian dan Pengaturan Perbankan BI Halim Alamsyah mengatakan, kondisi perekonomian global saat ini tidak akan mempengaruhi penyaluran kredit perbankan.
”Ancaman gejolak pasar dan risiko NPL yang akan terjadi, BI sudah menyiapkannya dan terus memperhatikan kondisi nasabah,” kata dia kepada wartawan.

0 Comments:
Post a Comment